Penulis: Zulhamri
KORANKALTIM.COM, SANGATTA- Perumda Air Minum Tirta Tuah Benua Kutai Timur (TTBKT) mulai mengoperasikan intake ponton di kawasan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kabo Jaya di Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara.
1 menit baca2 kali dibaca

Penulis: Zulhamri
KORANKALTIM.COM, SANGATTA- Perumda Air Minum Tirta Tuah Benua Kutai Timur (TTBKT) mulai mengoperasikan intake ponton di kawasan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kabo Jaya di Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara.
Fasilitas pengambilan air baku tersebut menjadi salah satu langkah untuk menjaga kontinuitas produksi air bersih di tengah musim kemarau dan fenomena El Nino yang masih berlangsung. Setelah intake ponton mulai beroperasi, total produksi IPA Kabo mencapai 312 liter per detik.
Dirut Perumda TTBKT Suparjan mengatakan, pengoperasian fasilitas tersebut menunjukkan kesiapan perusahaan dalam menghadapi dampak kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga November. Intake ponton ini menjadi salah satu upaya kita untuk menjaga produksi tetap stabil,
“Kami ingin memastikan pelayanan tetap berjalan meskipun kondisi air baku mengalami tekanan akibat kemarau,” kata Suparjan.
Periode El Nino memberikan dampak terhadap produksi air Perumdam Kutim. Penurunan produksi sempat terjadi secara bertahap, mulai dari sekitar 10 persen, 15 persen hingga mencapai 20 persen.
Dengan tambahan fasilitas pengambilan air baku tersebut, pihaknya berharap produksi dapat kembali mendekati kondisi normal sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Harapannya produksi bisa kembali mendekati kondisi normal. "Masyarakat tidak perlu khawatir karena kami terus berupaya menjaga pelayanan air bersih,” sebut Suparjan.
Secara teknis, intake ponton dilengkapi pompa sentrifugal berkapasitas hingga 150 liter per detik. Ponton tersebut memiliki panjang 5,5 meter, lebar 3,5 meter dan tinggi sekitar 1 meter.
Fasilitas itu juga dilengkapi atap dengan ketinggian sekitar 2,5 meter serta pagar pengaman untuk menunjang keselamatan petugas selama melakukan pengoperasian dan pemeliharaan. Sistem ponton dipilih karena mampu menyesuaikan posisi pengambilan air dengan perubahan muka air Sungai Sangatta. "Tentu hal itu menjadi penting ketika debit sungai mengalami penurunan akibat musim kemarau," sebut Suparjan.
Editor: Aspian Nur






463 kali dibaca
Pusat gempa berada di laut 9 km Selatan Kodi, Sumba Barat Daya
07 Okt 2026, 14:28:20 WIB • Kedalaman 19 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG