Rabu, 23/09/2026

Kabut Asap Masih jadi Masalah di Kutai Barat, Orangtua Sebut Belajar dari Rumah Kurang Maksimal 

Rabu, 23/09/2026

Kabut asap menyelimuti wilayah Kubar, siswa bersama menu MBG. (Adi/Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Kabut Asap Masih jadi Masalah di Kutai Barat, Orangtua Sebut Belajar dari Rumah Kurang Maksimal 

Rabu, 23/09/2026

logo

Kabut asap menyelimuti wilayah Kubar, siswa bersama menu MBG. (Adi/Korankaltim.com)

Penulis: Kusmas Riadi

KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Kabut asap masih menjadi masalah dalam aktivitas pendidikan di Kutai Barat (Kubar). Di tengah kualitas udara yang belum membaik, sebagian pelajar masih menjalani Belajar dari Rumah (BDR) sementara sekolah lain memilih kembali menggelar pembelajaran tatap muka dengan sejumlah penyesuaian.

Kondisi kualitas udara di Sendawar bahkan masih berada pada kategori berbahaya. Berdasarkan pemantauan ISPU.Net Rabu (23/9/2026) hingga pukul 15.00 WITA, indeks standar pencemaran udara (ISPU) tercatat 334 atau masuk kategori berbahaya.

Parameter kritis dalam pemantauan tersebut adalah PM2.5, yang juga tercatat pada angka 334. Kondisi ini membuat aktivitas belajar siswa harus menyesuaikan dengan keadaan kualitas udara.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kubar sebelumnya telah beberapa kali menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran mengikuti kondisi kualitas udara. Dalam kebijakan terbaru, BDR kembali diperpanjang hingga 26 September 2026 bagi satuan pendidikan PAUD/TK, SD dan SMP.

Kebijakan tersebut diberlakukan untuk melindungi peserta didik dan tenaga pendidik dari paparan kualitas udara buruk. Namun, penerapan BDR juga memberikan pengalaman berbeda bagi orang tua dalam mendampingi anak belajar dari rumah.

Corolus, orangtua siswa SMPK WR Soepratman mengatakan, anaknya selama BDR lebih banyak menerima materi dan tugas untuk dikerjakan dari rumah. Pembelajaran tidak dilakukan secara rutin melalui pertemuan virtual. Sempat ada pembelajaran yang direncanakan menggunakan Zoom, tetapi tidak terlaksana karena kendala teknis. “Kalau belajar di rumah kami sebagai orangtua bisa mendampingi. Tapi kalau terlalu lama belajar dari rumah, materi yang diterima anak jadi tidak maksimal. Sejauh ini mereka lebih banyak menerima tugas,” ujar Corolus kepada Korankaltim.com.

Dari sisi pendampingan, Corolus mengaku tidak terlalu mengalami kesulitan. Anaknya sudah cukup terbiasa menggunakan teknologi dan bahkan lebih memahami penggunaan perangkat digital dibanding orang tua.

Untuk menunjang pembelajaran, ia juga memberikan handphone khusus kepada anaknya. Pengalaman mengikuti pembelajaran daring sejak pandemi Covid-19 membuat anaknya tidak terlalu kesulitan mengikuti pola belajar dari rumah.

Meski begitu Corolus menilai penggunaan gawai selama BDR tetap membutuhkan pengawasan orang tua. Ia juga melihat pembelajaran tatap muka memberikan ruang lebih besar untuk penyampaian dan pendalaman materi. “Kalau di sekolah, anak bisa langsung mendapatkan penjelasan dari guru. Jadi bukan hanya menerima tugas, tetapi materi juga bisa dijelaskan dan diperdalam,” ungkapnya.

Pengalaman berbeda disampaikan Vian, orangtua murid SDIT Mulia Abadi Sumbersari. Sekolah tersebut sempat menerapkan BDR selama sekitar satu minggu sebelum kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Vian mengatakan, selama BDR anaknya tetap mengerjakan tugas yang diberikan sekolah. Namun, dari sisi penyampaian materi pembelajaran tidak berjalan semaksimal ketika anak berada di kelas. “Waktu BDR kemarin hanya diberikan tugas. Memang tugas dikerjakan, tapi secara materi anak jadi tertinggal karena materi yang seharusnya diberikan di kelas tidak tersampaikan. Pendalaman materinya juga tidak seintensif waktu mereka belajar di sekolah,” kata Vian.

Setelah sekitar satu minggu menerapkan BDR, pihak sekolah kemudian kembali menggelar pembelajaran tatap muka dengan sejumlah penyesuaian. Jam pulang yang sebelumnya sekitar pukul 13.00 WITA dipercepat menjadi sekitar pukul 11.00 WITA selama kondisi kualitas udara masih tidak sehat. Siswa tetap masuk sekitar pukul 07.15 WITA.

Aktivitas murid di sekolah juga dibatasi. Anak-anak tidak lagi banyak beraktivitas di halaman dan lebih banyak berada di dalam ruangan maupun teras sekolah. Murid juga diminta menggunakan masker. Anak-anak membawa masker dari rumah dan menggunakannya selama berada di lingkungan sekolah.

Vian mengaku tetap memiliki kekhawatiran karena kondisi kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Namun, pembatasan aktivitas dan percepatan jam pulang menjadi bentuk penyesuaian sekolah agar kegiatan belajar tetap berjalan.

Dua pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penerapan BDR di tengah kabut asap memiliki tantangan tersendiri. Bagi Corolus, pembelajaran dari rumah dapat tetap berjalan karena anak sudah terbiasa menggunakan teknologi, tetapi pendalaman materi menjadi perhatian jika BDR berlangsung terlalu lama.

Dengan kualitas udara Kubar yang masih berada pada kategori berbahaya, proses pendidikan tetap berjalan dengan berbagai penyesuaian untuk menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik maupun tenaga pendidik.

Editor: Aspian Nur

Kabut Asap Masih jadi Masalah di Kutai Barat, Orangtua Sebut Belajar dari Rumah Kurang Maksimal 

Rabu, 23/09/2026

Kabut asap menyelimuti wilayah Kubar, siswa bersama menu MBG. (Adi/Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait