Menurutnya, sulitnya air bersih di Kaltim ini cukup menjadi beban tersendiri bagi masyarakat. Terkhusus pada warga di wilayah padat pemukiman, pedalaman, dan dataran tinggi.
Kata dia, semestinya dari Pemda mesti menurunkan tim ahli untuk dapat menelusuri kendala-kendala di lapangan tersebut secara langsung. Kemudian, harus mengetahui kapasitas dari alat yang dimiliki oleh daerah, layak atau tidaknya atau mungkin terjadi kebocoran.
Tio sapaannya mengatakan dalam penyelesaian masalah ini perlu di dicari tahu titik masalahnya terlebih dahulu. Jika sudah diketahui, dapat dipelajari dan segera mencari solusinya. Kemudian, lanjut dia, perlu di petakan terlebih dahulu daerah-daerah mana saja yang bermasalah dengan air bersih. Ditelusuri siapa penyedia air bersih hingga kini.
Karena beberapa tempat itu ternyata ada yang dari perusahaan swasta. "Pertanyaannya kenapa swasta bisa sedangkan Pemda gak bisa," terangnya, Kamis (29/4/2021).
Diketahui, di beberapa titik di Samarinda justru terdapat perusahaan air minum berbentuk swasta yang telah berlangsung dengan cukup lama. "Kalau sudah lama itu kan gak mungkin swasta rugi, pasti untung makanya bertahan. Jadi sebenarnya terkait ini mudah penyelesaiannya," tuturnya.
Selain mencari tahu titik masalah dan upaya penyelesaiannya. Sumber daya manusia (SDM) pun perlu untuk ditingkatkan kapasitasnya. "Jangan sampai ada anggaran tapi SDM nya ga siap," ungkapnya.
Sekretaris Fraksi Golkar DPRD Kaltim ini mengatakan tidak hanya di Samarinda yang mengalami kondisi ini, namun juga terjadi di wilayah-wilayah lainnya. Hanya saja, persentasenya saja yang berbeda. (adv/*1)
Editor : Bambang Irawan