Teknologi berbasis mesin piolisis ini memberikan dampak langsung bagi para nelayan khususnya di Kecamatan Muara Jawa.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, mengatakan, hasil konservasi sampah ini dijual kepada nelayan lokal sebagai bahan bakar pengganti solar dengan harga per liter Rp10 Ribu.
"Langkah ini jadi angin segar di tengah seringnya terjadi hambatan melaut akibat solar yang langka di pasaran. Sistem ini sangat fleksibel. Operator di lapangan bisa menentukan apakah hasil akhir pengolahan sampah ini akan disetarakan dengan kualitas Pertalite atau setara Solar," kata Tri Joko Kuncoro, Kamis (1/10/2026).
Tri Joko menjelaskan, pengolahan menggunakan perbandingan satu banding satu, untuk setiap kilogram sampah pelastik tersebut yang masuk ke dalam mesin mampu dikonvveesi menjadi satu liter BBM.
Kini, program yang telah berjalan selama satu tahun tersebut sudah menyasar sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan TPS3R yang tersebar di wilayah Kukar, seperti Loa Kulu, Loa Tebu, Muara Kaman, Sanga-sanga, Muara Jawa, Muara Muntai, Muara Wis, Kenohan hingga Kecamatan Tabang.
Tidak hanya menyasar nelayan, manfaat sirkular ekonomi dari program ini mulai dilirik oleh sektor pertanian. DLHK Kukar aktif mengedukasi kelompok tani agar dapat memanfaatkan bahan bakar alternatif ini untuk Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan).
"Respons positif datang langsung dari salah satu kelompok tani yang saat ini mereka merencanakan untuk memproduksi solar mandiri dari sampah plastik di lingkungan mereka sendiri," ungkapnya.
DLHK Kukar berkomitmen memperluas cakupan program ini demi menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus mendorong kemandirian energi bagi masyarakat pesisir dan pelosok. (Adv)