Selain itu, tantangan lain yang harus di waspadai bersama adalah penyaringan informasi dari berbagai hal yang dapat memecah belah persatuan sebagai anak bangsa diantaranya paham radikal yang telah bayak memakan korban jiwa.
"Jangan mau diadu domba hanya demi kepentingan segelintir orang maupun kelompok dari berbagai latar belakang manapun termasuk yang berbalut agama. Karena tidak ada agama manapun yang mengajarkan untuk mencederai sesama umat manusia," kata Herliana.
Terpisah, Ketua GP Anshor Kab Penajam Roni Setyawan selalu nara sumber menjelaskan alasan kenapa wajib mencintai Indonesia karena tidak ada bangsa yang seunik Indonesia. Ia mencontoh Singapura yang disana masyarakat tidak berhak memiliki tanah, tanah dimiliki negara dan masyarakat tinggal di pemukiman yang di bangun oleh pemerintah dan dikenakan biaya sewa.
Dikaruniai kekayaan alam yang melimpah yang diwariskan dari generasi ke generasi, mulai dari hutan, minyak dan gas, uranium, emas dan lainnya. "Sebagai orangtua wajib mewariskan rasa cinta itu kepada anak sebagai generasi penerus," kata Roni didampingi Koramil Kecamatan Waru, Serka Sayik.
Perang sekarang tidak lagi melalui kekerasan akan tetapi bentuk perang kecerdasan. Misalnya, persaingan produk elektronik, kesehatan, kecantikan dan sebagainya. "Telepon genggam dan komputer yang terus berkembang menjadi persaingan dalam merebut pasar oleh negara-negara produsen," sebutnya. Sebuah negara makmur dan berkembang lanjut dia bisa hancur hanya karena teklonogi.
Pentingnya setiap individu untuk melakukan penyaringan informasi yang diterima dan disebarkan di media sosial. "Berkaca kepada negara yang terjadi konflik besar, dimulai dari adu domba masyarakat dengan pemerintah, aparat penegak hukum dan tentara. Tidak saling percaya satu dengan lain akan memicu kericuhan dan konflik yang pada akhirnya merugikan kita semua," tutup Roni. (adv/*2)
Editor: Aspian Nur