Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman juga ikut serta turun langsung membantu proses pemadaman. Ia beberapa kali turut memadamkan karhutla. Bara yang tersembunyi di dalam lapisan gambut membutuhkan penanganan lebih cermat.
"Permukaan tanah yang terlihat basah belum tentu menandakan api benar-benar padam," sebutnya, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, jika masih ada terdapat panas di bagian dalam sewaktu-waktu api dapat kembali muncul terutama ketika tertiup angin. Petugas tidak hanya dituntut memadamkan kobaran besar, tetapi juga memastikan seluruh titik panas ditangani hingga tuntas.
"Langkah tersebut menjadi semakin penting karena lokasi kebakaran berada di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga," ujarnya.
Di tengah upaya pengendalian api, empat unit armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk membantu penanganan. Personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama para relawan turut bekerja di lapangan untuk mencegah api merambat ke area lain.
Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan penanganan karhutla. Ia meminta seluruh personel tetap waspada, khususnya terhadap bara yang berpotensi menimbulkan kebakaran susulan.
“Jangan hanya melihat api yang sudah padam di permukaan. Pastikan bara di dalam gambut juga benar-benar mati," beber Ardiansyah.
Langkah tersebut demi mengantisipasi agar api tidak kembali muncul dan mengancam rumah-rumah warga. Pihaknya meminta petugas terus memantau perkembangan situasi di lapangan, termasuk perubahan arah angin yang dapat mempercepat perambatan api.
"Koordinasi antar personel perlu dijaga agar setiap titik rawan dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar," ungkapnya.
Menurutnya, penanganan karhutla membutuhkan kerja sama seluruh unsur yang terlibat. Kecepatan bertindak harus diimbangi dengan ketelitian dalam memastikan sumber panas benar-benar padam, sehingga upaya pemadaman tidak sia-sia akibat munculnya kembali api dari titik yang sebelumnya dianggap aman.
"Petugas gabungan dan relawan terus berupaya mengendalikan situasi di kawasan Kenyamukan," ucapnya.
Di tengah kepulan asap dan panas yang masih terasa, mereka harus memastikan bara yang tersisa tidak kembali menyulut kobaran baru. Pengawasan lanjutan terhadap titik-titik panas menjadi bagian penting untuk memastikan kebakaran tidak kembali membesar dan keselamatan masyarakat tetap terjaga.
"Selama bara masih tersimpan di dalam gambut, kewaspadaan dan pemantauan harus terus dilakukan untuk mencegah api kembali menyala," jelasnya. (Adv)
Editor: Erwin
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman juga ikut serta turun langsung membantu proses pemadaman. Ia beberapa kali turut memadamkan karhutla. Bara yang tersembunyi di dalam lapisan gambut membutuhkan penanganan lebih cermat.
"Permukaan tanah yang terlihat basah belum tentu menandakan api benar-benar padam," sebutnya, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, jika masih ada terdapat panas di bagian dalam sewaktu-waktu api dapat kembali muncul terutama ketika tertiup angin. Petugas tidak hanya dituntut memadamkan kobaran besar, tetapi juga memastikan seluruh titik panas ditangani hingga tuntas.
"Langkah tersebut menjadi semakin penting karena lokasi kebakaran berada di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga," ujarnya.
Di tengah upaya pengendalian api, empat unit armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk membantu penanganan. Personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama para relawan turut bekerja di lapangan untuk mencegah api merambat ke area lain.
Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan penanganan karhutla. Ia meminta seluruh personel tetap waspada, khususnya terhadap bara yang berpotensi menimbulkan kebakaran susulan.
“Jangan hanya melihat api yang sudah padam di permukaan. Pastikan bara di dalam gambut juga benar-benar mati," beber Ardiansyah.
Langkah tersebut demi mengantisipasi agar api tidak kembali muncul dan mengancam rumah-rumah warga. Pihaknya meminta petugas terus memantau perkembangan situasi di lapangan, termasuk perubahan arah angin yang dapat mempercepat perambatan api.
"Koordinasi antar personel perlu dijaga agar setiap titik rawan dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar," ungkapnya.
Menurutnya, penanganan karhutla membutuhkan kerja sama seluruh unsur yang terlibat. Kecepatan bertindak harus diimbangi dengan ketelitian dalam memastikan sumber panas benar-benar padam, sehingga upaya pemadaman tidak sia-sia akibat munculnya kembali api dari titik yang sebelumnya dianggap aman.
"Petugas gabungan dan relawan terus berupaya mengendalikan situasi di kawasan Kenyamukan," ucapnya.
Di tengah kepulan asap dan panas yang masih terasa, mereka harus memastikan bara yang tersisa tidak kembali menyulut kobaran baru. Pengawasan lanjutan terhadap titik-titik panas menjadi bagian penting untuk memastikan kebakaran tidak kembali membesar dan keselamatan masyarakat tetap terjaga.
"Selama bara masih tersimpan di dalam gambut, kewaspadaan dan pemantauan harus terus dilakukan untuk mencegah api kembali menyala," jelasnya. (Adv)
Editor: Erwin