"Kami mendapat laoporan dari Direktur Utama PDAM kalau debit air kita masih rendah karena hujan belum merata. Untuk kapasitas produksi biasanya 80 liter per detik, sekarang turun setengahnya jadi sekitar 40 liter," kata Sunggono, Kamis (5/11/2026).
Sebagai langkah penguat pasokan air, Pemkab Kukar memanfaatkan waduk lama milik BWS yang berada di Samboja. Nemun, ada beberapa tantangan geografis yang harus dihadapi, sebab, berjarak sekitar lima hingga tujuh kilometer dari penampungan terdekat milik PDAM.
"Jarak yang cukup signifikan itu membuat kita harus mematangkan terkait pembangunan jaringan pipa penyaluran serta pengujian kualitas air baku agar layak diolah dan dialirkan ke rumah tangga," ungkapnya.
Upaya mempercepat proses evaluasi, Sunggono meminta tim teknis segera berkoordinasi langsung di lapangan. "Kami sudah perintahkan Direktur Utama PDAM untuk turun langsung ke lapangan berkoordinasi dengan Camat Samboja dan pihak BWS. Ini untuk memastikan debit air di waduk itu mencukupi dan secara teknis bisa diolah menjadi air baku untuk kebutuhan warga Samboja dan sekitarnya," tegasnya.
Hasil kajian lapangan serta skema koordinasi bersama BWS ini nantinya akan dijadikan parameter utama Pemkab Kukar dalam merumuskan pembangunan infrastruktur darurat demi memulihkan pelayanan air bersih di Samboja. (Adv)
"Kami mendapat laoporan dari Direktur Utama PDAM kalau debit air kita masih rendah karena hujan belum merata. Untuk kapasitas produksi biasanya 80 liter per detik, sekarang turun setengahnya jadi sekitar 40 liter," kata Sunggono, Kamis (5/11/2026).
Sebagai langkah penguat pasokan air, Pemkab Kukar memanfaatkan waduk lama milik BWS yang berada di Samboja. Nemun, ada beberapa tantangan geografis yang harus dihadapi, sebab, berjarak sekitar lima hingga tujuh kilometer dari penampungan terdekat milik PDAM.
"Jarak yang cukup signifikan itu membuat kita harus mematangkan terkait pembangunan jaringan pipa penyaluran serta pengujian kualitas air baku agar layak diolah dan dialirkan ke rumah tangga," ungkapnya.
Upaya mempercepat proses evaluasi, Sunggono meminta tim teknis segera berkoordinasi langsung di lapangan. "Kami sudah perintahkan Direktur Utama PDAM untuk turun langsung ke lapangan berkoordinasi dengan Camat Samboja dan pihak BWS. Ini untuk memastikan debit air di waduk itu mencukupi dan secara teknis bisa diolah menjadi air baku untuk kebutuhan warga Samboja dan sekitarnya," tegasnya.
Hasil kajian lapangan serta skema koordinasi bersama BWS ini nantinya akan dijadikan parameter utama Pemkab Kukar dalam merumuskan pembangunan infrastruktur darurat demi memulihkan pelayanan air bersih di Samboja. (Adv)