Bupati Kubar Frederick Edwin menjelaskan, pelayanan kesehatan menjadi salah satu kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi secara merata. Saat ini, layanan kesehatan telah didukung tenaga medis dan fasilitas yang tersebar di 16 kecamatan.
Untuk mendukung pelayanan kesehatan di 16 kecamatan, Kubar memiliki 1.794 tenaga kesehatan. Di antaranya terdapat 139 dokter, termasuk 22 dokter spesialis. Frederick menyebut ketersediaan tenaga medis tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Meski demikian, kebutuhan peningkatan fasilitas masih menjadi perhatian, terutama di RSUD Harapan Insan Sendawar. Rumah sakit tersebut tidak hanya melayani masyarakat Kubar, tetapi juga menjadi salah satu tujuan rujukan pasien dari Kabupaten Mahakam Ulu.
Meningkatnya jumlah pasien berdampak pada kebutuhan ruang rawat inap dan sejumlah fasilitas pendukung lainnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah daerah merencanakan pengembangan rumah sakit pada 2027.
“RSUD Harapan Insan Sendawar menjadi salah satu RSUD rujukan bagi pasien Kabupaten Mahakam Ulu. Hal ini mengakibatkan peningkatan jumlah pasien yang berdampak pada kekurangan ruang inap dan beberapa fasilitas lainnya,” ujar Frederick, Kamis (5/11/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, renovasi dan pengembangan RSUD Harapan Insan Sendawar akan dilaksanakan melalui skema kontrak tahun jamak pada 2027. Bersamaan dengan itu, pemerintah daerah juga merencanakan pembangunan Labkesda sebagai fasilitas pendukung pelayanan kesehatan.
Selain pembangunan prasarana, pengadaan alat kesehatan dan alat penunjang medik juga menjadi perhatian. Dukungan peralatan diperlukan agar tenaga medis dapat memberikan pelayanan yang komprehensif, akurat, aman, dan efisien.
Penguatan sektor kesehatan juga dilakukan melalui upaya pencegahan dan penanganan stunting. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM), prevalensi stunting di Kubar tercatat sebesar 12,31 persen pada 2025, kemudian turun menjadi 11,49 persen pada 2026. Angka tersebut berkurang 0,82 poin persentase.
Frederick menyebut E-PPGBM menjadi instrumen penting untuk memantau kondisi gizi balita sekaligus mengevaluasi pelaksanaan intervensi di lapangan. Namun, upaya penurunan stunting tetap perlu diperkuat melalui kerja sama lintas sektor dan program yang menyasar kelompok berisiko.
“Pemerintah dan semua pihak harus terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam percepatan penurunan stunting dengan memastikan intervensi penanganan stunting baik spesifik dan sensitif dilaksanakan secara tepat sasaran, terintegrasi, dan berkelanjutan, mulai dari calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak balita,” ujarnya.
Intervensi spesifik berkaitan langsung dengan upaya kesehatan dan pemenuhan gizi, sedangkan intervensi sensitif mencakup faktor pendukung di luar layanan kesehatan yang turut memengaruhi kondisi gizi keluarga. Karena itu, pencegahan tidak hanya berfokus pada anak yang sudah mengalami stunting, tetapi dimulai sejak masa persiapan kehamilan hingga anak memasuki usia balita.
Sementara itu, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting Kubar sebesar 27,6 persen, lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Timur sebesar 22,2 persen dan nasional sebesar 19,8 persen. Data SSGI tersebut memiliki sumber dan metode pengukuran berbeda dengan E-PPGBM sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung sebagai tren tahunan.
Melalui pengembangan fasilitas kesehatan, dukungan peralatan medis, serta penguatan intervensi gizi, pemerintah daerah berupaya meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperluas upaya pencegahan masalah kesehatan masyarakat di Kubar. (Adv)
Bupati Kubar Frederick Edwin menjelaskan, pelayanan kesehatan menjadi salah satu kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi secara merata. Saat ini, layanan kesehatan telah didukung tenaga medis dan fasilitas yang tersebar di 16 kecamatan.
Untuk mendukung pelayanan kesehatan di 16 kecamatan, Kubar memiliki 1.794 tenaga kesehatan. Di antaranya terdapat 139 dokter, termasuk 22 dokter spesialis. Frederick menyebut ketersediaan tenaga medis tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Meski demikian, kebutuhan peningkatan fasilitas masih menjadi perhatian, terutama di RSUD Harapan Insan Sendawar. Rumah sakit tersebut tidak hanya melayani masyarakat Kubar, tetapi juga menjadi salah satu tujuan rujukan pasien dari Kabupaten Mahakam Ulu.
Meningkatnya jumlah pasien berdampak pada kebutuhan ruang rawat inap dan sejumlah fasilitas pendukung lainnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah daerah merencanakan pengembangan rumah sakit pada 2027.
“RSUD Harapan Insan Sendawar menjadi salah satu RSUD rujukan bagi pasien Kabupaten Mahakam Ulu. Hal ini mengakibatkan peningkatan jumlah pasien yang berdampak pada kekurangan ruang inap dan beberapa fasilitas lainnya,” ujar Frederick, Kamis (5/11/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, renovasi dan pengembangan RSUD Harapan Insan Sendawar akan dilaksanakan melalui skema kontrak tahun jamak pada 2027. Bersamaan dengan itu, pemerintah daerah juga merencanakan pembangunan Labkesda sebagai fasilitas pendukung pelayanan kesehatan.
Selain pembangunan prasarana, pengadaan alat kesehatan dan alat penunjang medik juga menjadi perhatian. Dukungan peralatan diperlukan agar tenaga medis dapat memberikan pelayanan yang komprehensif, akurat, aman, dan efisien.
Penguatan sektor kesehatan juga dilakukan melalui upaya pencegahan dan penanganan stunting. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM), prevalensi stunting di Kubar tercatat sebesar 12,31 persen pada 2025, kemudian turun menjadi 11,49 persen pada 2026. Angka tersebut berkurang 0,82 poin persentase.