Politikus PDI-P ini juga menyebutkan, data yang ada tercatat bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) tergolong mampu untuk mandiri. Sehingga sangat memungkinkan untuk berdiri sendiri menjadi kabupaten baru di Kalimantan Timur.
“Selama ini, yang paling sulit adalah persoalan akses jalan, seperti dari Samarinda. Untuk bisa mencapai beberapa desa masih harus menggunakan jalan perusahaan. Pernah suatu ketika saat saya reses, kondisinya sedang hujan, alhasil akses jalan cukup parah dan berlumpur karena masih berupa tanah,” kata anggota komisi I yang bertugas dibidang pemerintahan ini.
Tak hanya itu, ia juga menuturkan persoalan listrik, beberapa diantarannya seperti Kecamatan Muara Bengkal, Muara Ancalong, Batu Ampar, Loa Masengat dan Busang juga masih minim. Meski kini listrik sudah mulai masuk, namun tidak dapat dinikmati dan dimanfaatkan maksimal, hal itu karena masyarakat hanya mendapat aliran listrik selama 12 jam per hari.
“Menyala pukul 6 sore hingga pukul 6 pagi, setiap hari seperti itu, sangat dilema. Disisi lain penerangan malam hari diperlukan, namun sisi lain aktivitas terpadat penggunaan listrik semestinya adalah siang hari,” tutur politikus Dapil Bontang, Kutim dan Berau ini.
Untuk itu, secara tegas Safuad mengatakan bahwa satu-satunya upaya mempercepat pembangunan daerah-daerah terpencil di Kutai Timur adalah melalui pemekaran Kutai Utara. Dirinya pun juga berjanji akan terus mendorong dan mengawal upaya pemekaran guna kemajuan dan kesejahteraan rakyat. (adv/hms5)
Politikus PDI-P ini juga menyebutkan, data yang ada tercatat bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) tergolong mampu untuk mandiri. Sehingga sangat memungkinkan untuk berdiri sendiri menjadi kabupaten baru di Kalimantan Timur.
“Selama ini, yang paling sulit adalah persoalan akses jalan, seperti dari Samarinda. Untuk bisa mencapai beberapa desa masih harus menggunakan jalan perusahaan. Pernah suatu ketika saat saya reses, kondisinya sedang hujan, alhasil akses jalan cukup parah dan berlumpur karena masih berupa tanah,” kata anggota komisi I yang bertugas dibidang pemerintahan ini.
Tak hanya itu, ia juga menuturkan persoalan listrik, beberapa diantarannya seperti Kecamatan Muara Bengkal, Muara Ancalong, Batu Ampar, Loa Masengat dan Busang juga masih minim. Meski kini listrik sudah mulai masuk, namun tidak dapat dinikmati dan dimanfaatkan maksimal, hal itu karena masyarakat hanya mendapat aliran listrik selama 12 jam per hari.
“Menyala pukul 6 sore hingga pukul 6 pagi, setiap hari seperti itu, sangat dilema. Disisi lain penerangan malam hari diperlukan, namun sisi lain aktivitas terpadat penggunaan listrik semestinya adalah siang hari,” tutur politikus Dapil Bontang, Kutim dan Berau ini.
Untuk itu, secara tegas Safuad mengatakan bahwa satu-satunya upaya mempercepat pembangunan daerah-daerah terpencil di Kutai Timur adalah melalui pemekaran Kutai Utara. Dirinya pun juga berjanji akan terus mendorong dan mengawal upaya pemekaran guna kemajuan dan kesejahteraan rakyat. (adv/hms5)