Penulis: Zulhamri
KORANKALTIM.COM, SANGATTA– Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur (Disdikbud Kutim) mendorong penguatan literasi siswa melalui pengembangan metode pembelajaran yang melatih kemampuan berpikir kritis.
2 menit baca3 kali dibaca

Penulis: Zulhamri
KORANKALTIM.COM, SANGATTA– Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur (Disdikbud Kutim) mendorong penguatan literasi siswa melalui pengembangan metode pembelajaran yang melatih kemampuan berpikir kritis.
Guru diharapkan tidak hanya mengajarkan siswa membaca, tetapi juga memahami informasi serta membedakan fakta dan opini.
Kepala Disdikbud Kutim Mulyono mengatakan, kemampuan literasi siswa masih perlu terus ditingkatkan. Menurutnya, literasi tidak cukup diukur dari kemampuan membaca, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap isi bacaan dan kemampuan menilai informasi secara kritis.
“Literasi di Kutim masih harus kita tingkatkan. Ini menjadi tugas bersama, terutama para guru yang setiap hari mendampingi siswa dalam proses pembelajaran,” ujar Mulyono.
Ia menjelaskan, kemampuan literasi menjadi bekal penting bagi siswa dalam menghadapi arus informasi yang semakin mudah diakses. Terlebih, perkembangan internet dan media sosial membuat anak-anak terpapar berbagai informasi setiap hari.
Kondisi tersebut menuntut siswa memiliki kemampuan untuk memilah informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Tanpa pemahaman yang baik, mereka berisiko menerima kabar keliru maupun informasi yang menyesatkan.
“Anak-anak harus dibiasakan memahami informasi yang mereka baca. Jangan sampai mereka langsung percaya pada suatu kabar tanpa mengetahui apakah informasi itu benar atau tidak,” jelasnya.
Mulyono menegaskan, siswa juga perlu dilatih menyampaikan pendapat berdasarkan alasan yang jelas dan didukung bukti. Dengan demikian, mereka tidak sekadar mengikuti pendapat orang lain, tetapi mampu membangun pemikiran secara mandiri. Diharapkan, siswa bukan hanya lancar membaca, tetapi juga mampu berpikir kritis.
"Mereka harus bisa membedakan mana fakta dan mana opini, kemudian menyampaikan pendapat dengan alasan yang tepat,” tegasnya.
Untuk memperkuat gerakan literasi di lingkungan sekolah, Disdikbud Kutim membentuk Asosiasi Guru Motivator Literasi (AGUMLI) Kutim. Organisasi ini menjadi wadah bagi para guru untuk berbagi pengalaman, bertukar gagasan, serta mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Keberadaan AGUMLI diharapkan dapat mendorong guru menghadirkan kegiatan literasi yang lebih menarik dan tidak terbatas pada aktivitas membaca. Penguatan literasi juga dapat dilakukan melalui kegiatan menulis, berdiskusi, serta mengajak siswa mengemukakan pendapat dan mengajukan pertanyaan.
Mulyono menilai, guru memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan literasi sekaligus membentuk pola pikir kritis siswa. Karena itu, proses pembelajaran perlu memberikan ruang lebih luas bagi siswa untuk terlibat aktif, bukan hanya mendengarkan penjelasan di kelas. Guru dituntut mampu menciptakan suasana belajar yang mendorong siswa aktif membaca, menulis, dan berdiskusi.
"Berikan kesempatan kepada mereka untuk bertanya mengemukakan pendapat serta belajar mencari jawaban berdasarkan informasi yang benar,” pungkasnya. (adv)
Guru diharapkan tidak hanya mengajarkan siswa membaca, tetapi juga memahami informasi serta membedakan fakta dan opini.
Kepala Disdikbud Kutim Mulyono mengatakan, kemampuan literasi siswa masih perlu terus ditingkatkan. Menurutnya, literasi tidak cukup diukur dari kemampuan membaca, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap isi bacaan dan kemampuan menilai informasi secara kritis.
“Literasi di Kutim masih harus kita tingkatkan. Ini menjadi tugas bersama, terutama para guru yang setiap hari mendampingi siswa dalam proses pembelajaran,” ujar Mulyono.
Ia menjelaskan, kemampuan literasi menjadi bekal penting bagi siswa dalam menghadapi arus informasi yang semakin mudah diakses. Terlebih, perkembangan internet dan media sosial membuat anak-anak terpapar berbagai informasi setiap hari.
Kondisi tersebut menuntut siswa memiliki kemampuan untuk memilah informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Tanpa pemahaman yang baik, mereka berisiko menerima kabar keliru maupun informasi yang menyesatkan.

“Anak-anak harus dibiasakan memahami informasi yang mereka baca. Jangan sampai mereka langsung percaya pada suatu kabar tanpa mengetahui apakah informasi itu benar atau tidak,” jelasnya.
Mulyono menegaskan, siswa juga perlu dilatih menyampaikan pendapat berdasarkan alasan yang jelas dan didukung bukti. Dengan demikian, mereka tidak sekadar mengikuti pendapat orang lain, tetapi mampu membangun pemikiran secara mandiri. Diharapkan, siswa bukan hanya lancar membaca, tetapi juga mampu berpikir kritis.
"Mereka harus bisa membedakan mana fakta dan mana opini, kemudian menyampaikan pendapat dengan alasan yang tepat,” tegasnya.
Untuk memperkuat gerakan literasi di lingkungan sekolah, Disdikbud Kutim membentuk Asosiasi Guru Motivator Literasi (AGUMLI) Kutim. Organisasi ini menjadi wadah bagi para guru untuk berbagi pengalaman, bertukar gagasan, serta mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Keberadaan AGUMLI diharapkan dapat mendorong guru menghadirkan kegiatan literasi yang lebih menarik dan tidak terbatas pada aktivitas membaca. Penguatan literasi juga dapat dilakukan melalui kegiatan menulis, berdiskusi, serta mengajak siswa mengemukakan pendapat dan mengajukan pertanyaan.
Mulyono menilai, guru memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan literasi sekaligus membentuk pola pikir kritis siswa. Karena itu, proses pembelajaran perlu memberikan ruang lebih luas bagi siswa untuk terlibat aktif, bukan hanya mendengarkan penjelasan di kelas. Guru dituntut mampu menciptakan suasana belajar yang mendorong siswa aktif membaca, menulis, dan berdiskusi.
"Berikan kesempatan kepada mereka untuk bertanya mengemukakan pendapat serta belajar mencari jawaban berdasarkan informasi yang benar,” pungkasnya. (adv)









109 kali dibaca


62 km TimurLaut MALUKUBRTDAYA
21 Okt 2026, 14:44:15 WIB • Kedalaman 96 km
Tidak berpotensi tsunami
Sumber: BMKG