Ia berharap kepada siapapun yang ingin melakukan demonstrasi menentang kebijakan itu agar tak melibatkan anak-anak dan pelajar.
"Saya menghimbau untuk aksi saya tidak sarankan untuk mengajak siswa. Karena siswa tidak boleh diajak untuk melakukan aksi-aksi semacam itu. Tugas mereka belajar. Saya tidak menganjurkan. Mohon tidak diajak," paparnya.
Ia menjelaskan, sedianya dari total 218 sekolah negeri setingkat SMA/SMK di Kaltim sudah ada 17 sekolah yang siap menjalankan sistem FDS. Sisanya, Dayang menargetkan hingga akhir 2017 ini akan bertambah tiga sekolah lagi. Samarinda dan Balikpapan dinilai Dayang potensial.
Dikatakannya, bahwa masih banyak sekolah yang belum melaksanakan FDS. Hal demikian karena masih minimnya sarana prasarana pendukung untuk penerapan FDS.
"Untuk penerapannya kami harus menimbang kemampuan kami juga di daerah. Artinya harus disesuaikan dengan kemampuan sekolah di daerah. Kalau mereka siap melaksanakan, ya silakan. Sarana prasarana juga harus dipenuhi. Jangan sampai mereka seharian di sekolah tapi tak diperhatikan istirahat mereka. Sarana seperti tempat istirahat, tempat makan, hingga sarana peribadatan juga perlu ada," tukasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dengan FDS bukan berarti siswa akan berada dalam kelas selama seharian penuh. Namun lebih kepada penerapan lingkungan sekolah, di mana di luar jam belajar, siswa diperkenankan melakukan aktivitas yang berkaitan dan tetap dalam pengawasan guru. (rs)
Ia berharap kepada siapapun yang ingin melakukan demonstrasi menentang kebijakan itu agar tak melibatkan anak-anak dan pelajar.
"Saya menghimbau untuk aksi saya tidak sarankan untuk mengajak siswa. Karena siswa tidak boleh diajak untuk melakukan aksi-aksi semacam itu. Tugas mereka belajar. Saya tidak menganjurkan. Mohon tidak diajak," paparnya.
Ia menjelaskan, sedianya dari total 218 sekolah negeri setingkat SMA/SMK di Kaltim sudah ada 17 sekolah yang siap menjalankan sistem FDS. Sisanya, Dayang menargetkan hingga akhir 2017 ini akan bertambah tiga sekolah lagi. Samarinda dan Balikpapan dinilai Dayang potensial.
Dikatakannya, bahwa masih banyak sekolah yang belum melaksanakan FDS. Hal demikian karena masih minimnya sarana prasarana pendukung untuk penerapan FDS.
"Untuk penerapannya kami harus menimbang kemampuan kami juga di daerah. Artinya harus disesuaikan dengan kemampuan sekolah di daerah. Kalau mereka siap melaksanakan, ya silakan. Sarana prasarana juga harus dipenuhi. Jangan sampai mereka seharian di sekolah tapi tak diperhatikan istirahat mereka. Sarana seperti tempat istirahat, tempat makan, hingga sarana peribadatan juga perlu ada," tukasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dengan FDS bukan berarti siswa akan berada dalam kelas selama seharian penuh. Namun lebih kepada penerapan lingkungan sekolah, di mana di luar jam belajar, siswa diperkenankan melakukan aktivitas yang berkaitan dan tetap dalam pengawasan guru. (rs)