Mengusung tema “Merawat Sungai, Memulihkan Kehidupan”, kegiatan yang dipusatkan di Tepian Ahmad Yani itu melibatkan ratusan peserta dari berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah, komunitas, perguruan tinggi hingga pelajar.
Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengatakan gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, kreativitas dan keterlibatan masyarakat diperlukan untuk membangun kebiasaan menjaga sungai secara berkelanjutan.
“Ini bukan hanya seremonial, tapi membangun rasa bahwa kebersihan sungai adalah bagian dari gaya hidup kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Sungai Segah dan Sungai Kelay memiliki peran strategis bagi kehidupan masyarakat Berau. Selain mendukung transportasi air, kedua sungai menjadi penunjang aktivitas perikanan, pertanian, hingga perputaran ekonomi masyarakat di kawasan tepian.
“Seperti kita ketahui bersama, Sungai Segah dan Sungai Kelay ini merupakan urat nadi perekonomian Kabupaten Berau,” terangnya.
Keberadaan sungai juga berkaitan dengan daya tarik kawasan perkotaan. Tepian Ahmad Yani, Tepian Teratai, Tepian Gunung Tabur, hingga Tepian Sambaliung menjadi ruang publik yang dimanfaatkan masyarakat untuk bersantai dan menikmati kuliner.
Kondisi sungai yang bersih dapat memperkuat kenyamanan kawasan tersebut sekaligus mendukung potensi wisata lokal. Karena itu, gerakan pelestarian sungai perlu dikembangkan melalui kegiatan kreatif yang melibatkan komunitas, pelajar, dan pelaku usaha.
Zulkifli menegaskan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga kebersihan sungai. Partisipasi masyarakat menjadi kunci, terutama dalam mencegah sampah dari permukiman masuk ke aliran air. “Kurangi sampah, pilah sampah, kelola dari sumbernya. Jangan buang sampah sembarangan,” tegasnya.
Menurutnya, aksi membersihkan sungai hanya memberikan dampak sementara apabila tidak disertai perubahan perilaku. Pengelolaan sampah dari rumah tangga dan lingkungan sekitar perlu menjadi kebiasaan agar sampah tidak terbawa aliran air ketika hujan.
Melalui aksi tersebut, DLHK Berau berharap tumbuh gerakan bersama yang tidak hanya berfokus pada kebersihan, tetapi juga menjaga fungsi sungai sebagai jalur transportasi, penopang ekonomi, dan ruang kehidupan masyarakat.
“Yang kita harapkan adalah perubahan perilaku yang berlangsung secara terus-menerus,” pungkasnya. (*)
Mengusung tema “Merawat Sungai, Memulihkan Kehidupan”, kegiatan yang dipusatkan di Tepian Ahmad Yani itu melibatkan ratusan peserta dari berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah, komunitas, perguruan tinggi hingga pelajar.
Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengatakan gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, kreativitas dan keterlibatan masyarakat diperlukan untuk membangun kebiasaan menjaga sungai secara berkelanjutan.
“Ini bukan hanya seremonial, tapi membangun rasa bahwa kebersihan sungai adalah bagian dari gaya hidup kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Sungai Segah dan Sungai Kelay memiliki peran strategis bagi kehidupan masyarakat Berau. Selain mendukung transportasi air, kedua sungai menjadi penunjang aktivitas perikanan, pertanian, hingga perputaran ekonomi masyarakat di kawasan tepian.
“Seperti kita ketahui bersama, Sungai Segah dan Sungai Kelay ini merupakan urat nadi perekonomian Kabupaten Berau,” terangnya.
Keberadaan sungai juga berkaitan dengan daya tarik kawasan perkotaan. Tepian Ahmad Yani, Tepian Teratai, Tepian Gunung Tabur, hingga Tepian Sambaliung menjadi ruang publik yang dimanfaatkan masyarakat untuk bersantai dan menikmati kuliner.
Kondisi sungai yang bersih dapat memperkuat kenyamanan kawasan tersebut sekaligus mendukung potensi wisata lokal. Karena itu, gerakan pelestarian sungai perlu dikembangkan melalui kegiatan kreatif yang melibatkan komunitas, pelajar, dan pelaku usaha.
Zulkifli menegaskan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga kebersihan sungai. Partisipasi masyarakat menjadi kunci, terutama dalam mencegah sampah dari permukiman masuk ke aliran air. “Kurangi sampah, pilah sampah, kelola dari sumbernya. Jangan buang sampah sembarangan,” tegasnya.
Menurutnya, aksi membersihkan sungai hanya memberikan dampak sementara apabila tidak disertai perubahan perilaku. Pengelolaan sampah dari rumah tangga dan lingkungan sekitar perlu menjadi kebiasaan agar sampah tidak terbawa aliran air ketika hujan.
Melalui aksi tersebut, DLHK Berau berharap tumbuh gerakan bersama yang tidak hanya berfokus pada kebersihan, tetapi juga menjaga fungsi sungai sebagai jalur transportasi, penopang ekonomi, dan ruang kehidupan masyarakat.
“Yang kita harapkan adalah perubahan perilaku yang berlangsung secara terus-menerus,” pungkasnya. (*)