"Sirekap ini bukan indikator utama. Hanya cadangan, alat bantu. Perhitungan secara manual tetap dilakukan," kata Noor Thoha, Sabtu (21/11/2020).
KPU turut melakukan evaluasi terhadap penerapan protokol kesehatan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) dalam simulasi tersebut. Beberapa harus disempurnakan.
"Sarung tangan dibagikan saat pemilih masuk TPS dan harus dipakai sembari menunggu antrean ke bilik suara," ujarnya.
Warga yang akan mencoblos juga tak diperkenankan membawa anak-anak ke TPS. Rencana menyediakan tempat bermain pun akhirnya ditiadakan.
"Ya karena rawan bagi anak-anak. Pemilih yang suhu tubuhnya di atas 37,3 derajat celcius pun harus disisihkan ke bilik khusus," ujarnya.
KPU menyediakan tiga bilik suara di pada 1.505 TPS. Dua bilik untuk pemilih yang suhu tubuhnya normal dan satu bilik khusus bagi pemilih bersuhu tubuh tinggi.
"Kalau kotak suara tetap satu saja," sebutnya.
Simulasi dilakukan selayaknya pungut hitung pada pemilihan umum. Bahkan warga yang datang merupakan peserta pemilih.
"Tapi tidak semuanya kami minta coblos dan hasilnya dihitung. Nanti ketahuan kecenderungan dukungan warga di sini," pungkasnya. (adv)
Penulis: Hendra
Editor : Bambang Irawan