
Kamis, 17/09/2026
Kamis, 17/09/2026
Bupati bersama unsur Forkopimda saat hadiri prosesi Beluluh Sultan di Kedaton. (Foto: Heri/Korankaltim.com)

Kamis, 17/09/2026

Bupati bersama unsur Forkopimda saat hadiri prosesi Beluluh Sultan di Kedaton. (Foto: Heri/Korankaltim.com)
Penulis: Muhammad Heriansyah
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri menghadiri prosesi Beluluh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI Sultan Aji Muhammad Arifin di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Tenggarong, Kamis (17/9/2026).
Pada kesempatan ini, Aulia menegaskan pentingnya menjaga makna dan kesakralan Upacara Adat Beluluh dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026. Seperti diketahui, Prosesi Beluluh menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026 yang dijadwalkan berlangsung 20 hingga 27 September 2026.
Aulia menyampaikan penghormatan kepada Sultan, kerabat Kesultanan, pemangku adat, pelaku seni budaya serta masyarakat yang selama turun-temurun menjaga keberlangsungan Erau. Menurut orang nomor satu Kukar ini, Beluluh tidak boleh dipandang hanya sebagai prosesi seremonial. Tradisi tersebut memiliki makna yang berkaitan erat dengan sejarah, adat, kepemimpinan dan kehidupan masyarakat Kutai Kartanegara.
“Erau tidak tepat dipahami semata-mata sebagai keramaian atau tontonan budaya. Erau adalah ruang pewarisan nilai, ruang perjumpaan antargenerasi, sekaligus ruang yang memperlihatkan bahwa kebudayaan tetap hidup ketika dijaga, dipahami, dan diberi tempat yang terhormat di tengah perubahan zaman,” kata Aulia.
Ia menjelaskan, dalam Perda Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 2 Tahun 2016, Beluluh ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian Upacara Adat Erau dan dimaknai sebagai pembersihan diri Sultan agar mendapatkan keselamatan. Makna tersebut, lanjut Aulia, tetap relevan di tengah perubahan sosial, kemajuan teknologi dan perkembangan ekonomi.
“Akar budaya yang kokoh diperlukan agar kemajuan tetap memiliki arah, etika dan jati diri,” tegasnya.
Aulia juga mengajak masyarakat memaknai tema Erau Adat Kutai 2026, yakni “Raja Menunggal Bersama Rakyat, Raja Menjamu Rakyatnya”.
Menurutnya, tema tersebut mengandung pesan tentang kebersamaan, saling menghormati dan tanggung jawab dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.
Ia berharap semakin dikenalnya Erau di tingkat nasional maupun internasional tidak mengurangi kesakralan dan marwah adat yang terkandung di dalamnya.
“Warisan budaya tidak cukup hanya disimpan, namun ia harus diwariskan. Ia tidak cukup hanya dipentaskan; ia harus dipahami. Dan ia tidak cukup hanya dibanggakan; ia harus dijaga dengan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai luhur di dalamnya,” tukasnya. (Adv)
Editor: Aspian Nur

Kamis, 17/09/2026
Bupati bersama unsur Forkopimda saat hadiri prosesi Beluluh Sultan di Kedaton. (Foto: Heri/Korankaltim.com)
TERPOPULER