Kamis, 06/08/2026
Kamis, 06/08/2026
Potret anak didik di SMA Negeri 10 ketika mengikuti prosesi belajar dan mengajar di kelas. (Ayu/KoranKaltim.com)
Kamis, 06/08/2026

Potret anak didik di SMA Negeri 10 ketika mengikuti prosesi belajar dan mengajar di kelas. (Ayu/KoranKaltim.com)
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Pembentukan karakter anak didik menjadi fondasi utama SMA Negeri 10 Samarinda dalam mencetak lulusan berdaya saing global.
Prinsip tersebut terus diperkuat oleh sekolah yang menjadi satu-satunya Sekolah Garuda Transformasi di Kalimantan Timur (Kaltim) ini melalui kebiasaan kedisiplinan, kepedulian sosial, hingga budaya riset.
Sejak ditetapkan sebagai Sekolah Garuda Transformasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) pada Juni 2025, SMA Negeri 10 Samarinda tidak hanya memacu penguatan akademik, melainkan juga memperkuat pembentukan karakter peserta didik.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri 10 Samarinda Huntari Prestia Dewi menyampaikan, budaya sekolah yang berakar kuat tetap dipertahankan sebagai identitas utama. Kebiasaan senyum, salam, sapa, sopan, dan santun (5S) menjadi nilai dasar yang terus ditanamkan kepada seluruh siswa.
“Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun itu adalah ciri khas budaya dari SMA Negeri 10 Samarinda. Utamanya untuk Sekolah Garuda Transformasi pastinya,” ujar Huntari, Kamis (6/8/2026).
Konsistensi penegakan disiplin turut menjadi faktor kunci kepercayaan pemerintah menunjuk SMA Negeri 10 Samarinda menjalankan program strategis tersebut.
Selain itu, pembentukan karakter diwujudkan melalui aksi kepedulian sosial dan lingkungan yang terwadahi dalam program Smaridasa Care, seperti aksi penanaman pohon, penyaluran sembako, hingga pembagian makanan.
Sisi spiritualitas diselaraskan melalui kegiatan keagamaan rutin. Siswa muslim dibiasakan melaksanakan salat duha setiap Kamis dan salat Jumat bersama, sedangkan siswa nonmuslim memperoleh pendampingan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.
Dari aspek akademik, budaya berprestasi diasah melalui pengembangan pola pikir kritis serta tradisi riset. Sekolah mendorong siswa aktif menyusun karya tulis ilmiah dan riset kolaboratif guna melahirkan inovasi baru.
“Sehingga rasa ingin tahu siswa bisa dituangkan dalam bentuk karya ilmiah maupun inovasi,” terangnya.
Guna mendukung kesehatan fisik, kebiasaan hidup sehat diterapkan setiap Jumat melalui gerakan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat, salah satunya lewat program makan buah bersama seluruh siswa kelas X, XI, dan XII.
Rangkaian program terpadu ini diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, melainkan juga memiliki karakter kokoh, berjiwa sosial, serta siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional. (adv)
Editor: Erwin
Kamis, 06/08/2026
Potret anak didik di SMA Negeri 10 ketika mengikuti prosesi belajar dan mengajar di kelas. (Ayu/KoranKaltim.com)
TERPOPULER