Kuliah umum yang dihadiri ratusan mahasiswa Unmul dari sejumlah fakultas dan disiplin ilmu tersebut mengangkat tema terkait hubungan AS dengan Indonesia. Hadir pada kesempatan itu Foreign Service Officer at U.S Departemen of State, Lester Asamoah sebagai narasumber.
Pada kesempatan itu Abdunnur mengatakan, dirinya menyambut baik adanya kolaborasi kerja sama antara Unmul dengan pihak Kedubes AS. Dia juga mengatakan, banyak program yang akan dilaksanakan oleh Unmul ke depannya diantaranya pembangunan kampus yang secara posisi berdekatan dengan kawasan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, dimana pembangunannya mengusung konsep yang mengelola dan menjaga ekosistem hutan serta mengantisipasi tantangan lingkungan termasuk perubahan iklim. “Kami juga ingin memberikan dukungan terhadap pengembangan pengetahuan dan pengabdian masyarakat, termasuk studi stropis,” kata Abdunnur.
Unmul jelasnya memerlukan banyak dukungan dari para pengambil kebijakan seperti diantaranya Kedubes AS yang perlu kolaborasi dalam banyak hal diantaranya program pertukaran pelajar, pertukaran tenaga pengajar, melakukan riset bersama dan program positif lainnya seperti kunjungan ke universitas yang ada di Amerika Serikat.“Saya juga berharap kepada Fakultas Ekonomi bisa memberikan masukan kepada saya terkait pertumbuhan ekonomi di Indonesia khususnya di Kalimantan Timur,” tambahnya.
Abdunnur juga menambahkan, Unmul yang memiliki sebanyak 36 ribu mahasiswa dengan 13 fakultas untuk program sarjana tentu membutuhkan dukungan dari banyak pihak agar visi Unmul menjadi universitas kelas dunia bisa terwujud.
Sementara itu, Lester Asamoah dalam pemaparannya mengatakan, dari pertemuan ini nanti setidaknya akan ada pertimbangan untuk bisa mengunjungi Amerika Serikat dalam hal kontribusi orang per orang yang akan memberi keuntungan kedua negara yakni AS dan Indonesia.
Dalam paparannya Lester Asamoah juga memaparkan terkait kerja sama kedua negara yang telah terjalin selama ini seperti dalam hal menghasilkan produk pertanian dan perdagangan. “Kami (AS) memiliki banyak perusahaan besar seperti facebook, amazon, google, dan juga perusahaan energi yang akan mendukung sektor ekonomi masa depan. Dan yang ada di sini (Indonesia) untuk waktu yang sama adalah Freeport,” ungkapnya.
Dari kuliah umum itu juga dilakukan sesi tanya jawab antara mahasiswa dan dari pihak kedutaan Amerika Serikat diantaranya menyangkut topik perdagangan dimana dalam diskusi itu dijelaskan bahwa Indonesia selama ini masih melakukan impor komoditas pertanian dari Amerika Serikat seperti gandum dimana kerja sama ini sudah berlangsung dan sifatnya menguntungkan kedua negara dilihat dari sistem kerja sama perdagangan.
Selain itu, dibahas pula mengenai energi terbaharukan dan diharapkan ke depan Indonesia juga sudah mulai mengurangi pemanfaatan energi batu bara yang banyak menimbulkan polusi dan beralih kepada energy yang ramah lingkungan. (Adv)