"Kunjungan ini, adalah rangkaian dari Misi Dagang Pemprov Jatim dengan Kaltim. Tujuannya di antaranya, membangun konektivitas atau jejaring antara kedua provinsi," ujar Drajat kepada Korankaltim.com.
Ia menyebut, kerjasama dimaksudkan untuk meningkatkan pemasaran produk unggulan masing-masing provinsi. Juga dalam rangka mencari subtitusi impor. Karena, ada beberapa barang yang masih didatangkan secara impor, yang bisa jadi ada di Kaltim atau sebaliknya.
Selain itu, salah satu fokus dari kerjasama kedua provinsi adalah dalam sektor properti.
Pengurus Himpunan Pengembang Perumahan dan Permukiman Rakyat (Himpera) kedua provinsi, dikatakan Drajat juga telah sepakat berkerjasama.
Pasalnya, ada beberapa industri pendukung properti di Jatim, yang pasar besarnya salah satunya adalah Kaltim.
"Ya seperti semen, cat, mungkin juga batu. Nah, saya diundang untuk datang ke sini, dalam rangka menyaksikan tindak lanjut dari MOU (memorandum of understanding) itu," tukas Drajat.
Ia mengakui, bahwa Kaltim adalah wilayah yang strategis bagi Jatim. Selain karena menjadi pasar bagi sekian produk andalan wilayahnya, juga karena adanya pembangunan Ibu Kota Negara (IKN).
Sektor properti disebut Drajat, menjadi salah satu industri yang paling terdampak positif. Untuk itu, ia mengaku Pemprov Jatim memberikan dukungan dan fasilitasi bagi pengembangan sektor ini.
"Karena properti ini tidak hanya satu saja. Ketika satu perumahan dibangun, mereka bisa menggerakkan setidaknya 200 industri ikutan," paparnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpera Kaltim, Muhammad Sofyan mengatakan, kerjasama dengan Jatim, menjadi semacam tukar ilmu dan informasi. Selain itu, ia juga mengaku siap membantu pelaku usaha properti dari Jatim yang ingin berinvestasi di Kaltim.
"Walaupun sebenarnya, kami (Himpera) wait and see (memperhatikan situasi pasar) khususnya untuk di kawasan IKN. Karena batasannya masih belum jelas. Mana yang boleh mana yang tidak boleh. Kami sudah ada plot wilayah. Jadi kami fokus ke kota penyangga. Samarinda, Balikpapan, PPU, Tenggarong. Tidak langsung ke titik yang mendekati IKN," beber Muhammad Sofyan.
Namun demikian, ia mengakui bahwa isu IKN turut mendongkrak penjualan properti di Kaltim. Khususnya di kawasan kota penyangga. "Saat IKN belum diputuskan. Penjualan Perumahan menengah agak susah. Setelah diputuskan naik sampai 40 persen. Rumah subsidi juga naik, penjualan. Dulunya cenderung stagnan," tukasnya.
Hal senada diungkapkan Grand Manager (GM) Grand Palaran City Sunarto. Ia menyebut bahwa potensi pasar di Kaltim tidak terbatas pada pengembangan kawasan IKN. Perilaku pasar di Kaltim, disebutkan memiliki perbedaan dengan yang ada di wilayah Jatim, khususnya Surabaya.
"Kalau di Samarinda ya, saya perhatikan masyarakatnya relatif lebih banyak yang tidak mau ribet. Mereka maunya ada rumah yang siap huni. Langsung beli, tunai. Tidak mau pakai skema cicilan, beda dengan di Surabaya," kata Sunarto.
Hal ini, menurut dia baik untuk bisnis properti. Pasalnya, akan menghindari dari kegagalan bayar yang biasa terjadi ketika pembelian dilakukan dengan sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
"Ya walaupun tentu tidak semua begitu, ya," pungkasnya.[]
Penulis : Rusdianto