Ya, dialah penulis nasional Tere Liye atau yang memiliki nama Darwis. Dengan kepiawaiannya mengolah kata menjadi alur cerita yang cukup menyedot jutaan pembacanya, Tere Liye cukup menginspirasi anak-anak sekolah termasuk para guru dan undangan yang hadir di acara.
Direktur SDM dan Umum PKT Meizar Effendi, mengatakan, kegiatan ini diharapkan menjadi agenda rutin setiap saat dalam memperingati bulan bahasa. “Kami ingin di bulan ini menjadi sebagai titik balik untuk hargai bahasa kita bahasa Indonesia. Dan kami sangat berharap kegiatan ini dilakukan setiap tahun, jadi setiap bulan bahasa dilakukan kegiatan seperti ini, ada talkshow, lomba-lomba bahasa, menulis cerpen dan lainnya, karena Indonesia memiliki beragam bahasa ada 600 bahasa daerah yang disatukan bahasa Indonesia,” kata Meizar, dalam sambutannya.
Dengan kegiatan ini, Meizar mengatakan, ingin beri sesuatu baru kepada anak anak generasi milinios. “Kami ingin beri sesuatu kepada anak-anak milinios yang mungkin cara bertutur tidak sama dengan kita. Karena itu, kami merasa perlu undang Bung Darwis dengan langsung melihat novel-novel beliau,” kata Meizar.
Meizar pun mengatakan, jika di Kaltim cukup banyak penulis. Nah dengan hadirnya Tere Liye di Bontang, diharapkan akan timbul penulis-penulis baru di Bontang.
Menurut Meizar, budaya literasi harus ditumbuhkan. Terutama di sekolah YPK. “Penduduk Bontang ini seperti Indonesia mini, dengan kedatangan Bung Darwis semoga bisa menginspirasi beliau dengan salah satu novel yang dengan background Kota Bontang, itu yang kita inginkan,” kata Meizar.
Sementara itu, budaya menulis kata Tere Liye harus dikembangkan dengan banyak latihan, dan jangan gampang menyerah. Tere Liye pun mencontohkan jika dirinya sejak SD sudah hobi menulis, hingga dewasa saat kuliah sampai lulus menjadi sarjana akuntan, tulisannya sempat 15 kali ditolak Surat Kabar Harian Kompas, hingga akhirnya bisa terbit di kolom opini di Kompas.
“Saya sudah menulis sejak 25 tahun lalu, dan 2005 berhenti nulis di kolom opini Kompas dan saya memutuskan untuk menulis novel,” kata Tere Liye.
Menurut Tere Liye, menulis itu adalah hobi, menulis di waktu-waktu kosong bahkan tanpa disadari, sebenarnya manusia modern saat ini penulis semua.
“Kalau ingin jadi penulis jadi penulis yang tahan banting. Penuhi amunisi di kepala, bagaimana caranya? banyak baca buku, banyak lakukan perjalanan dan banyak bertemu dengan orang lain,” kata Tere.
Dan, lanjutnya, jika ingin jadi penulis harus banyak latihan dan terakhir adalah pastikan memiliki motivasi terbaik. Apakah motivasinya ingin kaya, terkenal? Silahkan. Tapi kalau nulis gara-gara uang, pasti tidak akan jadi penulis yang baik.
“Tanpa buku otak jadi beku, maka penuhi amunisi kepala dengan perbanyak baca buku, dan perlu diketahui puncak kreatifitas itu adalah menulis dan yang paling penting jadi penulis itu ya konsistensi,” tandasnya.(cil/adv)