Sabtu, 02/05/2020
Sabtu, 02/05/2020
Khairunnisa (25), saat memotong kue talam, masyarakat lebih mengenalnya dengan kue basah (Fairus/Korankaltim.com)
Sabtu, 02/05/2020

Khairunnisa (25), saat memotong kue talam, masyarakat lebih mengenalnya dengan kue basah (Fairus/Korankaltim.com)
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Perempuan ini tampak bersemangat menyusun dagangannya. Tangannya yang sangat cekatan menata berbagai 'wadai' (sebutan khas kue dalam Bahasa Banjar). Sembari memotong kue-kue di talam seperti Amparan Tatak, Sari Pengantin, Sari Muka Ketan, Kue Lapis, Bingka dan masih banyak lagi.
Dia Khairunnisa (25), warga asal Samarinda Seberang, salah satu dari belasan pedagang yang menjual makanan untuk berbuka puasa di Jalan Bung Tomo, tepatnya di pertigaan Jl Daeng Mangkona, Samarinda Seberang.
Kue talam sendiri pada umumnya disebut kue basah di masyarakat. Selama bulan Ramadan, mulai pukul 12.00 Wita, Icha sapaan akrabnya, sudah siap menjajakan dagangannya dengan dibantu beberapa karyawan.
“Kue talam ada 16 macam, kalau wadai yang lain ada bingka, aneka gorengan, ada bubur, es buah, kolak semua hidangan menu berbuka. Tetapi, dari semua yang dijual, Amparan Tatak Pisang dan Sari Muka Ketan yang menjadi incaran,” jelasnya, Sabtu (2/5/2020).
Menurutnya, kue-kue yang dijualnya tersebut memang memiliki cita rasa yang khas. Tak heran, pelanggannya selalu ramai setiap Ramadan. Resep kue merupakan warisan turun-temurun dari ibu dan neneknya, Maskota Muradiah dan Hj. Hatim.
“Sudah sekitar 40 tahun (1980) kami berjualan berbagai jenis kue rumah dan pasar Ramadan, sebelum saya lahir malah. Sudah banyak juga warga Samarinda yang menjadi pelanggan tetap, hingga instansi pemerintahan dan swasta," tukasnya.
"Namun, adanya Covid-19 ini memang berpengaruh, pesanan ke instansi pemerintah yang biasa untuk menu berbuka bersama atau berbagi jelang buka puasa agak menurun,” tutur anak bungsu dari sembilan bersaudara ini.
Dari segi harga, Amparan Tatak dan kue talam lainnya terbilang cukup mahal dibandingkan kue lain. Untuk satu potong kue berukuran mika besar (18x 11 cm), pembeli harus merogoh kocek Rp 15.000 hingga Rp25.000.
Sementara itu, satu loyang dihargai Rp 280.000. Meski terbilang cukup mahal, namun rasa serta kualitas yang dihadirkan sepadan dengan kocek yang dikeluarkan. Dagangannya pun selalu habis tak bersisa karena dikenal dengan rasa dan konsistensi resepnya.
"Kalau membeli satu loyang harus pesan jauh-jauh hari. Alhamdulillah setiap harinya habis, misal ada sisa dari penjualan kami bagikan pada tetangga, masjid, pemungut sampah, penyapu jalan atau karyawan yang bekerja disini,” imbuhnya.
Berkat konsistensi Maskota Muradiah sebagai pembuat kue serta mendiang Hj Hatim yang tak kenal lelah, Amparan Tatak yang merupakan kue khas Kalimantan Selatan itu menjadi kuliner legendaris dan diburu saat Ramadan dan di bulan biasa.
"Mungkin sebagian orang di Kota Tepian sudah mengenal kue Hj Hatim di Pasar Ramadan. Ya, kue Hj Hatim saat ini sudah berganti nama menjadi "Maskota", sudah 5 tahun saya nge-branding ulang kue Hj.HATIM menjadi MASKOTA Restaurant & Tradisional Cake Home Industry. Maskota di ambil dari nama ibu saya Maskota Muradiah, beliau adalah pencetus pertama kue Hj Hatim dan dari kreativitas beliau terciptalah berbagai macam kue-kue tradisional sampai yang modern dan aneka masakan, dengan resep dan teknik olahan khusus," tandas Icha.
Penulis : Fairus
Editor: M.Huldi
Sabtu, 02/05/2020
Khairunnisa (25), saat memotong kue talam, masyarakat lebih mengenalnya dengan kue basah (Fairus/Korankaltim.com)
TERPOPULER