Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana menyatakan bahwa penurunan ini disebabkan oleh lesunya performa ekspor di dua sektor utama, yaitu migas dan nonmigas.
“Ekspor migas tercatat sebesar US$125,08 juta, turun signifikan sebesar 18,80 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$1,42 miliar, juga turun 8,79 persen,” jelas Yusniar dalam rilis resminya, Senin (2/6/2025).
Sementara itu, nilai impor Kaltim justru mengalami sedikit peningkatan sebesar 1,96 persen dibandingkan Maret 2025, dengan total mencapai US$381,36 juta.
Rinciannya, impor migas turun 6,02 persen menjadi US$282,40 juta, namun impor nonmigas melonjak tajam sebesar 34,58 persen menjadi US$98,96 juta.
Meski ekspor menurun, neraca perdagangan Kaltim masih mencatat surplus sebesar US$1,16 miliar.
“Surplus ini sebagian besar ditopang oleh sektor nonmigas yang menyumbang surplus sebesar US$1,32 miliar, sementara sektor migas justru mengalami defisit sebesar US$157,32 juta,” tambah Yusniar.
Ia menambahkan kondisi ini menunjukkan masih kuatnya daya saing komoditas nonmigas Kaltim di pasar internasional, meskipun tekanan global terhadap sektor migas masih menjadi tantangan.
Editor: Erwin