Jumat, 10/04/2026
Jumat, 10/04/2026
Aktivitas pedagang plastik di Balikpapan. (Foto: Januar/Korankaltim.com)
Jumat, 10/04/2026

Aktivitas pedagang plastik di Balikpapan. (Foto: Januar/Korankaltim.com)
Penulis: Muhammad Solih Januar
KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN – Dampak konflik di Timur Tengah mulai dirasakan hingga ke warung-warung di Balikpapan. Terganggunya jalur distribusi minyak dunia, khususnya di Selat Hormuz, berdampak pada pasokan bahan baku plastik berupa nafta.
Akibatnya, harga kemasan plastik di pasaran melonjak tajam. Untuk beberapa jenis, harga bahkan menembus Rp32 ribu per pak dalam beberapa bulan terakhir.
Kenaikan tersebut kini dirasakan langsung oleh para pedagang di Pasar Baru Balikpapan. Hampir seluruh jenis plastik mengalami lonjakan harga, mulai dari plastik es, kantong kresek, hingga wadah makanan. Kenaikan ini terjadi sejak menjelang Ramadan dan terus berlanjut hingga saat ini.
Herman, pemilik toko plastik di kawasan Pasar Baru, mengatakan kenaikan harga terjadi secara bertahap namun signifikan. Ia menyebut, hampir seluruh barang yang dijual mengalami kenaikan hingga dua kali lipat dibandingkan harga sebelumnya.
“Sudah naik dari sebelum puasa, sampai sekarang bisa dibilang sudah dua kali lipat,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Ia mencontohkan, plastik ukuran 3 ons yang sebelumnya dijual Rp7.500 kini menjadi Rp15.000 per pak. Sementara plastik merah besar isi 50 lembar yang sebelumnya di kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000, kini telah mencapai Rp32.000 per pak.
Tak hanya itu, wadah makanan plastik ukuran 500 mililiter juga mengalami kenaikan dari Rp19.000 menjadi Rp31.000. Kertas nasi pun ikut terdongkrak dari Rp19.000 menjadi Rp30.000. Lonjakan ini membuat para pedagang harus mengeluarkan modal lebih besar untuk menjaga stok barang.
Kondisi tersebut berdampak pada pola penjualan di lapangan. Jika sebelumnya satu dus barang bisa habis dalam sehari, kini membutuhkan waktu lebih lama untuk terjual karena pembeli mulai mengurangi pembelian.
“Dulu satu dus sehari habis, sekarang bisa sampai lima hari baru habis. Penurunannya sekitar 40 persen,” ungkapnya.
Perubahan juga terlihat dari perilaku konsumen. Sejumlah pembeli mulai beralih ke kemasan yang lebih sederhana dan murah untuk menekan pengeluaran, meninggalkan wadah plastik yang dinilai terlalu mahal.
Dampak kenaikan harga ini turut dirasakan pelaku usaha kecil. Rahma, penjual gorengan di Balikpapan, mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli plastik pembungkus yang menjadi kebutuhan utama dalam berjualan sehari-hari.
“Biasanya beli Rp10 ribu, sekarang jadi Rp15 ribu. Pembeli juga ada yang komplain kenapa naik,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku belum menaikkan harga jual dagangannya dan masih berupaya bertahan agar pelanggan tidak berkurang. Namun, jika kondisi terus berlanjut, penyesuaian harga dinilai sulit dihindari.
Para pedagang berharap kondisi global segera membaik agar pasokan bahan baku kembali lancar dan harga plastik bisa kembali stabil. Mereka khawatir jika kenaikan terus berlanjut, dampaknya akan semakin meluas hingga ke harga kebutuhan sehari-hari di masyarakat.
Editor: Erwin
Jumat, 10/04/2026
Aktivitas pedagang plastik di Balikpapan. (Foto: Januar/Korankaltim.com)
TERPOPULER