Kamis, 09/07/2026
Kamis, 09/07/2026
Pasar Tangga Arung, dikunjungi banyak orang tapi sebagian hanya “shopping windows” alias melihat tanpa membeli. (Foto: Heri/Korankaltim.com)
Kamis, 09/07/2026

Pasar Tangga Arung, dikunjungi banyak orang tapi sebagian hanya “shopping windows” alias melihat tanpa membeli. (Foto: Heri/Korankaltim.com)
Penulis: Muhammad Heriansyah
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Cukup ramainya kunjungan masyarakat ke Pasar Tangga Arung Square (TAS) Tenggarong ternyata belum mampu mendongkrak penjualan para pedagang.
Aktivitas pasar memang terlihat lebih hidup, namun daya beli masyarakat yang masih rendah membuat transaksi belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Kondisi tersebut diakui Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kutai Kartanegara (Plt Disperindag Kukar) Sayid Fathullah. Menurutnya, meramaikan pasar bukan persoalan yang sulit, tetapi mendorong masyarakat untuk berbelanja menjadi tantangan terbesar di tengah melemahnya daya beli.
“Kalau daya beli lemah ya susah. Pasar Tangga Arung Square Kota Tenggarong itu bisa kita buat ramai dan ramaikan, tetapi membuat dagangan laku itu yang sulit, dan itu fakta. Setengah mati kita mendongkraknya,” kata Fathul, sapaan akrabnya kepada Korankaltim.com, Kamis (9/7/2026).
Tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat turut berdampak pada perputaran usaha para pedagang. Ketika kemampuan belanja masyarakat menurun, pelaku UMKM menjadi sektor yang paling cepat merasakan dampaknya.
Fathul meminta para pelaku usaha untuk tetap optimistis. Disperindag Kukar terus menghadirkan berbagai program pemberdayaan berupa pelatihan dan bantuan bagi kelompok usaha agar mampu meningkatkan kualitas produk serta memperluas pasar.
“Jangan kecil hati, tetap semangat. Disperindag memiliki program pelatihan dan bantuan. Kami menginventarisasi kebutuhan pelatihan yang dibutuhkan pelaku usaha, namun program tersebut diberikan kepada kelompok, bukan perorangan,” jelas Fathul lagi.
Selain pembinaan, Disperindag juga memperkuat kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) untuk memperluas peluang pemasaran produk lokal.
“Kalau kami tidak kolaborasi bisa kolaps. Kami bekerja sama dengan Dispora melalui Dekranasda yang membina produk-produk kerajinan. Kalau hanya mengandalkan satu jenis produk tentu kurang, jadi harus ada kerja bersama dan berinovasi,” papar Fathul.
Keberadaan FKP Corner berada di kawasan Dekranasda yang sebelumnya relatif sepi, namun kini mulai ramai setelah diisi berbagai kegiatan kolaborasi dan promosi produk lokal.
Fathul juga menyinggung kebijakan penggunaan produk lokal melalui Peraturan Bupati yang diharapkan dapat membuka pasar bagi UMKM dengan mendorong penyerapan produk oleh seluruh organisasi perangkat daerah. Namun, kebijakan efisiensi anggaran membuat peluang tersebut belum berjalan maksimal.
“Semangat Perbup itu agar produk yang dihasilkan bisa diserap minimal oleh seluruh OPD. Itu peluang pasar, tetapi dengan adanya kebijakan efisiensi tentu ada dampaknya,” jelasnya.
Fenomena ramainya kunjungan tetapi minim transaksi menjadi gambaran bahwa pemulihan ekonomi belum sepenuhnya mengembalikan daya beli masyarakat. Karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam memperkuat penggunaan produk lokal dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keberlangsungan UMKM sekaligus menggerakkan roda perekonomian daerah.
Berdasarkan hasil survei Disperindag Kukar, penurunan daya beli juga tercermin dari menurunnya omzet usaha kuliner.
“Kami sudah melakukan survei. Penurunan daya beli di warung-warung mencapai sekitar 20 persen. Efeknya tentu dirasakan para pelaku usaha, termasuk anak-anak muda yang sedang merintis usaha,” sebut Fathul.
Sementara seorang pedagang Pasar Tangga Arung Square, Sumiati mengatakan jumlah pengunjung memang cenderung mengalami peningkatan dibanding sebelumnya, namun sebagian besar hanya datang untuk melihat-lihat tanpa melakukan pembelian.
“Banyak dan ramai yang berkunjung, tetapi yang benar-benar membeli paling sekitar belasan orang setiap hari. Kalau makanan masih lumayan karena orang sambil jalan mencari jajanan. Berbeda dengan jualan barang, karena banyak juga dijual di luar dan sekarang masyarakat lebih terbiasa belanja secara online,” kata Sumiati.
Editor: Aspian Nur
Kamis, 09/07/2026
Pasar Tangga Arung, dikunjungi banyak orang tapi sebagian hanya “shopping windows” alias melihat tanpa membeli. (Foto: Heri/Korankaltim.com)
TERPOPULER