Pertandingan yang terlalu malam disinyalir jadi satu dari beberapa factor penyebab kematian bobotoh bernama Ahmad Solihin asal Cibaduyut dan Sopiana Yusup anggota Viking asal Bogor tersebut di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Sejak beberapa jam lalu, tanda pagar (tagar) boikot terhadap stasiun televisi yang menyiarkan secara langsung pertandingan Piala Presiden 2022 bergema. “Kami, Pecinta Bola Indonesia Menolak Jam Tayang Terlalu Malam tulis para pecinta sepakbola nasional dalam media sosial Twitter yang beredar sejak malam tadi.
Mereka pun mengemukakan lima alasan kenapa aksi boikot dilakukan, antara lain;
1. Kick off terlalu malam akan menyulitkan pengawasan atas perilaku aparat, Panpel, juga suporter karena pintu masuk di buka setelah kondisi gelap.
2.Kick off terlalu malam akan memperparah keadaan apa bila terjadi chaos atau gesekan.
3.Kick off terlalu malam memperbesar terkena tindak kejahatan jalan bagi para penonton saat perjalanan pulang, keluar stadion pukul 11 malam mempertaruhkan keselamatan penonton
4.Kick off terlalu malam menganggu jam biologis pesepakbola, yang akan berdampak ke kualitas performa nantinya.
5.Kick off terlalu malam tidak ramah bagi anak-anak dan menggangu jam biologis mereka, pedahal sepak bola sejatinya hiburan bagi semua. Tanpa terkecuali.
“Karena alasan-alasan tersebut, maka pecinta sepak bola Indonesia mengajak untuk memboikot tayangan piala presiden yang digelar pukul 20.30 dan Boikot ini akan di mulai tanggal 19 Juni (hari Minggu ini) (MD 3 fase grup),” tulis mereka lagi.
Para penggagas aksi boikot mengajak pencinta sepak bola Indonesia tidak menonton baik melalui televisi atau melalui aplikasi streaming hingga pihak broadcaster dan penyelenggara mengembalikan jam tayang sepak bola Indonesia menjadi pukul 15:30 dan 18:30.
Menurut mereka keselamatan penonton lebih berharga dari pada rating televisi semata karena diketahui perhelatan Piala Presiden 2022 tayang jam lima sore untuk laga pertama dan jam setengah 10 malam untuk pertandingan kedua dengan alasan waktu itu adalah prime time atau waktu utama masyarakat menonton televisi yang otomatis bisa menaikkan rating televisi yang memiliki hak siar.
Suporter sepakbola yang ada di Samarinda pun mengeluarkan nada yang sama dan setuju dengan aksi boikot itu. “Nonton pertandingan pertama jam lima, pas nonton babak kedua dimulai sudah azan Magrib, ini tentu mengganggu focus umat muslim pecinta bola yang menonton,” ujar Syaiful,pecinta sepakbola di Kota Tepian kepada Korankaltim.com.
“Untuk pertandingan kedua, terlalu malam. Bayangkan saja, pertandingan mulai jam setengah 10, ada water break dan baru selesai jam setengah 12 malam, belum keluar stadion, kalau sampai rumah bisa setengah satu atau bahkan jam satu tengah malam,” papar Syaiful, pecinta bola dari Kota Tepian.
Karena itu Syaiful berharap panitia pertandingan mau mengembalikan lagi jam tayang pertandingan Piala Presiden ke jadwal seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu jam setengah empat sore pertandingan pertama dan setengah tujuh malam pertandingan kedua.
Editor: Aspian Nur