Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Proyek pembangunan jalan tembusan menuju Pasar Pagi dari Jalan Mas Tumenggung dikeluhkan warga dan pemilik rumah toko (ruko) sekitar karena dinilai menghalangi akses menuju tempat usaha mereka.
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Proyek pembangunan jalan tembusan menuju Pasar Pagi dari Jalan Mas Tumenggung dikeluhkan warga dan pemilik rumah toko (ruko) sekitar karena dinilai menghalangi akses menuju tempat usaha mereka.
Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mengklaim penyesuaian telah dilakukan guna mengurai keluhan pedagang terkait fasilitas pembatas yang dipasang di depan lokasi usaha.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pasar Pagi Hendra Irawan mengatakan, akses menuju seluruh toko kini telah dibuka melalui pekerjaan sterilisasi dan pengecoran sementara.
Dengan demikian, tidak ada lagi pembatas yang menghalangi keterhubungan ruang dari sisi kiri maupun kanan pertokoan.
“Jadi semua akses toko-toko terhubung dengan jalan,” kata Hendra, Minggu (8/11/2026).
Rancangan pembangunan jalan tembusan tersebut telah mengalami tiga kali revisi guna mengakomodasi aspirasi warga.
Perubahan dilakukan setelah pemerintah menggelar sejumlah rapat koordinasi bersama jajaran asisten, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, kepala daerah, serta pihak kelurahan dan kecamatan.
Rancangan awal proyek menggunakan desain tertutup penuh dengan ketinggian pagar sekitar tiga meter.
Namun, pemkot kemudian mempertimbangkan permintaan warga agar tetap tersedia jalur keluar masuk pertokoan. Usulan itu disampaikan kepada Wali Kota Samarinda, Andi Harun dan disetujui untuk diubah.
Pada mulanya, lebar jalur akses dibuat relatif sempit berkisar 1,2 hingga 3 meter. Setelah mendapat lampu hijau dari wali kota, pihak perencana menurunkan ketinggian pagar serta memperlebar jarak akses hingga mencapai 1,7 meter guna memberikan ruang sirkulasi yang lebih longgar.
Selain perbaikan akses, proyek ini mencakup pembangunan saluran drainase baru yang langsung terhubung ke sungai guna mencegah potensi genangan di sekitar pertokoan.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) juga berkoordinasi dengan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) untuk memperjelas batas lahan dan kepemilikan ruang publik.
“Kontraktor dan konsultan juga mendapat masukan kembali dari warga agar meminta akses itu diperlebar. Kita laksanakan juga semuanya hingga akhirnya final perancangan itu kita ubah tiga kali, yang ini yang terakhir,” jelas Hendra.
Pemerintah berkomitmen mencari jalan tengah terbaik agar penataan kawasan dan penambahan estetika perkotaan berjalan sukses tanpa mengorbankan ekonomi warga setempat.
Di sisi lain, pemasangan bollard atau bola pembatas direncanakan khusus untuk menandai area pejalan kaki agar tidak dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Kita ada memasukkan ikon pesut seperti di Balai Kota. Kemudian ada seperti bola-bola itu untuk menandai bahwa tidak boleh dilewati oleh R2 (motor) maupun R4 (mobil),” tuturnya.
Sebelumnya, warga dan pedagang menegaskan pada dasarnya tidak menolak pembangunan jalan.
Namun, mereka keberatan atas pemasangan pagar, pot bunga, serta keberadaan tunggul di depan pertokoan yang dinilai menyulitkan mobilitas usaha hingga menghambat armada darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran.
Keluhan lain yang disuarakan menyangkut ketinggian jalan yang mencapai 60 sentimeter di atas bangunan toko karena dikhawatirkan memicu banjir.
Dampak pembangunan ini sedikitnya dirasakan langsung oleh tujuh ruko dengan total 50 hingga 60 pekerja dan pelaku usaha yang menggantungkan penghasilan di koridor tersebut.
DPRD Samarinda meminta pembangunan pagar khusus di depan ruko dihentikan tanpa mengganggu proyek penataan Pasar Pagi secara keseluruhan. Pihak legislatif menyarankan agar pekerjaan pagar dialihkan ke titik penataan lain di sekitar kawasan melalui mekanisme revisi adendum agar tidak merugikan pihak kontraktor.
Editor: Erwin
Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mengklaim penyesuaian telah dilakukan guna mengurai keluhan pedagang terkait fasilitas pembatas yang dipasang di depan lokasi usaha.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pasar Pagi Hendra Irawan mengatakan, akses menuju seluruh toko kini telah dibuka melalui pekerjaan sterilisasi dan pengecoran sementara.
Dengan demikian, tidak ada lagi pembatas yang menghalangi keterhubungan ruang dari sisi kiri maupun kanan pertokoan.
“Jadi semua akses toko-toko terhubung dengan jalan,” kata Hendra, Minggu (8/11/2026).

Rancangan pembangunan jalan tembusan tersebut telah mengalami tiga kali revisi guna mengakomodasi aspirasi warga.
Perubahan dilakukan setelah pemerintah menggelar sejumlah rapat koordinasi bersama jajaran asisten, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, kepala daerah, serta pihak kelurahan dan kecamatan.
Rancangan awal proyek menggunakan desain tertutup penuh dengan ketinggian pagar sekitar tiga meter.
Namun, pemkot kemudian mempertimbangkan permintaan warga agar tetap tersedia jalur keluar masuk pertokoan. Usulan itu disampaikan kepada Wali Kota Samarinda, Andi Harun dan disetujui untuk diubah.
Pada mulanya, lebar jalur akses dibuat relatif sempit berkisar 1,2 hingga 3 meter. Setelah mendapat lampu hijau dari wali kota, pihak perencana menurunkan ketinggian pagar serta memperlebar jarak akses hingga mencapai 1,7 meter guna memberikan ruang sirkulasi yang lebih longgar.
Selain perbaikan akses, proyek ini mencakup pembangunan saluran drainase baru yang langsung terhubung ke sungai guna mencegah potensi genangan di sekitar pertokoan.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) juga berkoordinasi dengan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) untuk memperjelas batas lahan dan kepemilikan ruang publik.
“Kontraktor dan konsultan juga mendapat masukan kembali dari warga agar meminta akses itu diperlebar. Kita laksanakan juga semuanya hingga akhirnya final perancangan itu kita ubah tiga kali, yang ini yang terakhir,” jelas Hendra.






Pemerintah berkomitmen mencari jalan tengah terbaik agar penataan kawasan dan penambahan estetika perkotaan berjalan sukses tanpa mengorbankan ekonomi warga setempat.
Di sisi lain, pemasangan bollard atau bola pembatas direncanakan khusus untuk menandai area pejalan kaki agar tidak dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Kita ada memasukkan ikon pesut seperti di Balai Kota. Kemudian ada seperti bola-bola itu untuk menandai bahwa tidak boleh dilewati oleh R2 (motor) maupun R4 (mobil),” tuturnya.
Sebelumnya, warga dan pedagang menegaskan pada dasarnya tidak menolak pembangunan jalan.
Namun, mereka keberatan atas pemasangan pagar, pot bunga, serta keberadaan tunggul di depan pertokoan yang dinilai menyulitkan mobilitas usaha hingga menghambat armada darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran.
Keluhan lain yang disuarakan menyangkut ketinggian jalan yang mencapai 60 sentimeter di atas bangunan toko karena dikhawatirkan memicu banjir.
Dampak pembangunan ini sedikitnya dirasakan langsung oleh tujuh ruko dengan total 50 hingga 60 pekerja dan pelaku usaha yang menggantungkan penghasilan di koridor tersebut.
DPRD Samarinda meminta pembangunan pagar khusus di depan ruko dihentikan tanpa mengganggu proyek penataan Pasar Pagi secara keseluruhan. Pihak legislatif menyarankan agar pekerjaan pagar dialihkan ke titik penataan lain di sekitar kawasan melalui mekanisme revisi adendum agar tidak merugikan pihak kontraktor.
Editor: Erwin

Pusat gempa berada di darat 20 km timur Kendari
08 Nov 2026, 01:54:12 WIB • Kedalaman 5 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG