Penulis: Adnan Abdul
Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Galon dan jeriken berjejer di Jalan Muang Dalam RT 02, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda. Warga bergantian menampung air bersih yang disalurkan pemerintah, setelah hampir tiga bulan kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari akibat kemarau panjang.
Bagi warga, bantuan tersebut menjadi penolong di tengah menipisnya sumber air yang selama ini mereka andalkan. Sejak pertengahan Agustus 2026, warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi semakin berat setelah sumber air di kawasan Bendungan dan Danau Benanga mengalami kekeringan.
Sebelum bantuan datang, warga terpaksa mencari air dari aliran sungai kecil yang mulai mengering. Mereka menggali bagian sungai yang masih menyisakan air untuk dijadikan sumur-sumur kecil. Air tersebut digunakan untuk mandi dan kebutuhan rumah tangga lainnya, meski jumlahnya tidak selalu mencukupi.
Sementara itu, kebutuhan air minum dan memasak mengharuskan warga mengeluarkan biaya tambahan dengan membeli air dari tandon yang bersumber dari mata air.
“Sudah tiga bulan setengah kami kesulitan air bersih. Kalau untuk air minum, kami beli. Untuk memasak juga beli air dari tandon, sedangkan untuk mandi kami menggali bekas aliran sungai menjadi sumur- sumur kecil,” ujar Saidah, warga Muang Dalam saat ditemui wartawan Korankaltim.com pada Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, air yang diperoleh dari sumur galian tersebut terkadang hanya cukup untuk mandi selama sehari. Bahkan, kebutuhan air untuk peternakan turut terdampak karena terbatasnya persediaan.
Saidah mengatakan, bantuan air bersih yang diterima warga kali ini merupakan penyaluran pertama yang mereka dapatkan selama menghadapi kesulitan tersebut.
“Sulit sekali mendapatkan air di sini. Harapan kami, kalau air bantuan ini habis, bisa dibantu lagi. Kami juga berharap jaringan PDAM bisa masuk ke wilayah ini,” katanya dengan nada penuh harap.
Ketua RT 02 Muang Dalam Suyanto mengatakan warga mulai mengalami kekurangan air sejak pertengahan Agustus. Sebelumnya, sebagian warga mengandalkan sumur bor, tetapi sumber air tersebut ikut mengering.
“Mulai Agustus kami sudah kesulitan air bersih. Biasanya warga menggunakan sumur bor, tetapi sekarang sudah mulai kering. Untuk mendapatkan bantuan air, waktunya tidak menentu. Kadang tiga hari sekali, kadang seminggu sekali, tergantung kebutuhan,” jelasnya.
Suyanto menduga terganggunya pasokan PDAM juga berkaitan dengan mengeringnya sumber air di kawasan bendungan.
Warga berharap penyaluran air bersih dapat dilakukan secara berkala hingga sumber air kembali normal. Mereka juga berharap perluasan jaringan PDAM ke Muang Dalam menjadi solusi jangka panjang agar krisis serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Editor: Erwin
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Galon dan jeriken berjejer di Jalan Muang Dalam RT 02, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda. Warga bergantian menampung air bersih yang disalurkan pemerintah, setelah hampir tiga bulan kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari akibat kemarau panjang.
Bagi warga, bantuan tersebut menjadi penolong di tengah menipisnya sumber air yang selama ini mereka andalkan. Sejak pertengahan Agustus 2026, warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi semakin berat setelah sumber air di kawasan Bendungan dan Danau Benanga mengalami kekeringan.
Sebelum bantuan datang, warga terpaksa mencari air dari aliran sungai kecil yang mulai mengering. Mereka menggali bagian sungai yang masih menyisakan air untuk dijadikan sumur-sumur kecil. Air tersebut digunakan untuk mandi dan kebutuhan rumah tangga lainnya, meski jumlahnya tidak selalu mencukupi.
Sementara itu, kebutuhan air minum dan memasak mengharuskan warga mengeluarkan biaya tambahan dengan membeli air dari tandon yang bersumber dari mata air.

“Sudah tiga bulan setengah kami kesulitan air bersih. Kalau untuk air minum, kami beli. Untuk memasak juga beli air dari tandon, sedangkan untuk mandi kami menggali bekas aliran sungai menjadi sumur- sumur kecil,” ujar Saidah, warga Muang Dalam saat ditemui wartawan Korankaltim.com pada Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, air yang diperoleh dari sumur galian tersebut terkadang hanya cukup untuk mandi selama sehari. Bahkan, kebutuhan air untuk peternakan turut terdampak karena terbatasnya persediaan.
Saidah mengatakan, bantuan air bersih yang diterima warga kali ini merupakan penyaluran pertama yang mereka dapatkan selama menghadapi kesulitan tersebut.
“Sulit sekali mendapatkan air di sini. Harapan kami, kalau air bantuan ini habis, bisa dibantu lagi. Kami juga berharap jaringan PDAM bisa masuk ke wilayah ini,” katanya dengan nada penuh harap.







Ketua RT 02 Muang Dalam Suyanto mengatakan warga mulai mengalami kekurangan air sejak pertengahan Agustus. Sebelumnya, sebagian warga mengandalkan sumur bor, tetapi sumber air tersebut ikut mengering.
“Mulai Agustus kami sudah kesulitan air bersih. Biasanya warga menggunakan sumur bor, tetapi sekarang sudah mulai kering. Untuk mendapatkan bantuan air, waktunya tidak menentu. Kadang tiga hari sekali, kadang seminggu sekali, tergantung kebutuhan,” jelasnya.
Suyanto menduga terganggunya pasokan PDAM juga berkaitan dengan mengeringnya sumber air di kawasan bendungan.
Warga berharap penyaluran air bersih dapat dilakukan secara berkala hingga sumber air kembali normal. Mereka juga berharap perluasan jaringan PDAM ke Muang Dalam menjadi solusi jangka panjang agar krisis serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.

Editor: Erwin




Pusat gempa berada di darat 10 km Utara Tanggamus
28 Okt 2026, 18:59:15 WIB • Kedalaman 4 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG
