Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, menyampaikan berdasarkan data terakhir periode 1 hingga 26 Oktober 2026, luas lahan yang terdampak karhutla mencapai sekitar 2.200 hektare. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Agustus yang mencapai sekitar 3.500 hektare dan September sekitar 3.800 hektare.
“Kalau kita lihat, September menjadi periode dengan luasan karhutla terbesar dalam tiga bulan terakhir,” ujar Buyung, Selasa (27/10/2026).
Selain luas lahan terbakar yang menurun, jumlah titik kebakaran berdasarkan pemantauan selama tiga hari terakhir juga berkurang. Buyung berharap, tren tersebut terus berlanjut seiring meningkatnya potensi hujan di sejumlah daerah.
Lebih lanjut, Buyung menuturkan, bahwa berdasarkan data pemantauan titik kebakaran tercatat di Kota Bontang kini hanya sebanyak satu titik, Kabupaten Kutai Barat (Kubar) satu titik, Kutai Kartanegara (Kukar) empat titik, Kutai Timur (Kutim) satu titik, dan Paser tiga titik.
“Sementara di Mahakam Ulu (Mahulu) tidak tercatat adanya titik kebakaran,” ucapnya.
Selain itu, Buyung menjelaskan, tren penurunan karhutla mulai terlihat di Kabupaten Berau dan Kubar seiring turunnya hujan. Kondisi ini kata dia dipengaruhi perubahan cuaca yang mendukung berkurangnya potensi kebakaran di sejumlah wilayah.
“Untuk di Berau dan Kutai Barat, karena sudah turun hujan, tren kebakaran juga ikut menurun. Prediksinya, wilayah ini mulai memasuki musim hujan,” katanya.
Namun, kondisi berbeda terjadi di Kota Samarinda, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser yang masih mengalami peningkatan kejadian karhutla. Khusus Kabupaten Paser, ungkap Buyung, wilayah tersebut diperkirakan menjadi salah satu daerah yang paling lambat memasuki musim hujan berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Meski demikian, dirinya menegaskan, bahwa penurunan jumlah titik dan luas kebakaran tidak berarti ancaman karhutla telah berakhir. Selain masih terdapat kebakaran aktif, masyarakat juga harus menghadapi dampak kabut asap yang menyebar hingga ke kawasan permukiman.
“Seperti di salah satu wilayah yang terdampak adalah kawasan Pelita 8 di Samarinda. Kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut tidak selalu berasal dari kebakaran yang baru terjadi, tetapi juga diduga dipengaruhi asap dari kebakaran pada periode sebelumnya,” terangnya.
Ia menjelaskan, asap yang muncul sejak Agustus hingga September diduga masih berkontribusi terhadap kondisi kabut asap saat ini. Selain itu, asap dari kebakaran di luar wilayah Kaltim, termasuk Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Barat (Kalbar), juga dapat terbawa dan menyebar ke wilayah lain.
Lalu kondisi atmosfer menurut Buyung turut memengaruhi pergerakan asap sehingga menyebabkan kabut asap bertahan dan mengurangi masuknya sinar matahari ke permukaan. Dampaknya, kualitas udara terganggu dan aktivitas masyarakat menjadi tidak nyaman.
“Jadi, bukan karena kebakaran yang terjadi sekarang, melainkan akibat kebakaran sebelumnya. Inilah yang mengganggu masyarakat dan sekolah-sekolah kita,” tutupnya.
Editor: Erwin
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, menyampaikan berdasarkan data terakhir periode 1 hingga 26 Oktober 2026, luas lahan yang terdampak karhutla mencapai sekitar 2.200 hektare. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Agustus yang mencapai sekitar 3.500 hektare dan September sekitar 3.800 hektare.
“Kalau kita lihat, September menjadi periode dengan luasan karhutla terbesar dalam tiga bulan terakhir,” ujar Buyung, Selasa (27/10/2026).
Selain luas lahan terbakar yang menurun, jumlah titik kebakaran berdasarkan pemantauan selama tiga hari terakhir juga berkurang. Buyung berharap, tren tersebut terus berlanjut seiring meningkatnya potensi hujan di sejumlah daerah.
Lebih lanjut, Buyung menuturkan, bahwa berdasarkan data pemantauan titik kebakaran tercatat di Kota Bontang kini hanya sebanyak satu titik, Kabupaten Kutai Barat (Kubar) satu titik, Kutai Kartanegara (Kukar) empat titik, Kutai Timur (Kutim) satu titik, dan Paser tiga titik.
“Sementara di Mahakam Ulu (Mahulu) tidak tercatat adanya titik kebakaran,” ucapnya.
Selain itu, Buyung menjelaskan, tren penurunan karhutla mulai terlihat di Kabupaten Berau dan Kubar seiring turunnya hujan. Kondisi ini kata dia dipengaruhi perubahan cuaca yang mendukung berkurangnya potensi kebakaran di sejumlah wilayah.
“Untuk di Berau dan Kutai Barat, karena sudah turun hujan, tren kebakaran juga ikut menurun. Prediksinya, wilayah ini mulai memasuki musim hujan,” katanya.
Namun, kondisi berbeda terjadi di Kota Samarinda, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser yang masih mengalami peningkatan kejadian karhutla. Khusus Kabupaten Paser, ungkap Buyung, wilayah tersebut diperkirakan menjadi salah satu daerah yang paling lambat memasuki musim hujan berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).