Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM,SAMARINDA - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Samarinda sempat menunjukkan peningkatan selama tiga bulan berturut-turut dari Juli hingga September 2026 sebelum akhirnya menurun pada Oktober.
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM,SAMARINDA - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Samarinda sempat menunjukkan peningkatan selama tiga bulan berturut-turut dari Juli hingga September 2026 sebelum akhirnya menurun pada Oktober.
Ditengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kelompok usia produktif tercatat sebagai penyumbang kasus terbanyak berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda.
Berdasarkan rekapitulasi Dinkes Samarinda dari seluruh puskesmas setempat, kasus ISPA tercatat sebanyak 8.610 kasus pada Juli, kemudian meningkat menjadi 10.681 kasus pada Agustus, dan mencapai puncaknya pada September dengan 12.819 kasus. Tren tersebut mulai melandai pada Oktober dengan catatan 9.970 kasus hingga 23 Oktober 2026.
Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih menjelaskan, tingginya angka kasus pada kelompok usia produktif berkaitan dengan jumlah penduduk yang besar serta tingginya mobilitas di luar ruangan.
Berdasarkan data periode 1–23 Oktober 2026, rentang usia 20–45 tahun mencatatkan kasus terbanyak, yakni 2.561 kasus (25,69 persen). Posisi berikutnya disusul anak usia 5–9 tahun sebanyak 1.607 kasus (16,12 persen) dan balita usia 1–4 tahun sebanyak 1.567 kasus (15,72 persen).
“Direntang usia itu kan paling banyak jumlah penduduk. Kemudian usia produktif itu memang paling banyak beraktivitas di luar,” kata Ismed.
Aktivitas pekerjaan dan kegiatan belajar membuat sebagian masyarakat lebih sering terpapar kondisi lingkungan luar ruangan. Meski Samarinda turut mewaspadai dampak karhutla, Ismed menyebut prevalensi ISPA di Kota Tepian masih lebih rendah dibandingkan sejumlah wilayah lain di Kalimantan, seperti Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Rincian kelompok usia lainnya meliputi usia 46–59 tahun sebanyak 1.145 kasus (11,48 persen), usia 10–14 tahun sebanyak 988 kasus (9,91 persen), serta remaja usia 15–19 tahun sebanyak 855 kasus (8,58 persen).
Sementara itu, lansia usia 60 tahun ke atas tercatat sebanyak 804 kasus (8,06 persen), dan bayi di bawah satu tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus paling sedikit, yakni 443 kasus (4,44 persen).
Selain ISPA, fluktuasi juga terjadi pada kasus diare sepanjang periode yang sama. Dinkes Samarinda mencatat 946 kasus pada Juli, yang kemudian menurun menjadi 892 kasus pada Agustus. Kasus sempat naik menjadi 1.104 kasus pada September sebelum kembali melandai menjadi 849 kasus hingga 23 Oktober 2026.
Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta mengantisipasi perubahan cuaca guna menekan risiko penularan penyakit pernapasan maupun pencernaan melalui kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
Masyarakat juga diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk akibat debu atau asap karhutla. "Imbauan masyarakat tetap menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan," tutup Ismed.
Editor: Aspian Nur
Ditengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kelompok usia produktif tercatat sebagai penyumbang kasus terbanyak berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda.
Berdasarkan rekapitulasi Dinkes Samarinda dari seluruh puskesmas setempat, kasus ISPA tercatat sebanyak 8.610 kasus pada Juli, kemudian meningkat menjadi 10.681 kasus pada Agustus, dan mencapai puncaknya pada September dengan 12.819 kasus. Tren tersebut mulai melandai pada Oktober dengan catatan 9.970 kasus hingga 23 Oktober 2026.
Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih menjelaskan, tingginya angka kasus pada kelompok usia produktif berkaitan dengan jumlah penduduk yang besar serta tingginya mobilitas di luar ruangan.
Berdasarkan data periode 1–23 Oktober 2026, rentang usia 20–45 tahun mencatatkan kasus terbanyak, yakni 2.561 kasus (25,69 persen). Posisi berikutnya disusul anak usia 5–9 tahun sebanyak 1.607 kasus (16,12 persen) dan balita usia 1–4 tahun sebanyak 1.567 kasus (15,72 persen).

“Direntang usia itu kan paling banyak jumlah penduduk. Kemudian usia produktif itu memang paling banyak beraktivitas di luar,” kata Ismed.
Aktivitas pekerjaan dan kegiatan belajar membuat sebagian masyarakat lebih sering terpapar kondisi lingkungan luar ruangan. Meski Samarinda turut mewaspadai dampak karhutla, Ismed menyebut prevalensi ISPA di Kota Tepian masih lebih rendah dibandingkan sejumlah wilayah lain di Kalimantan, seperti Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Rincian kelompok usia lainnya meliputi usia 46–59 tahun sebanyak 1.145 kasus (11,48 persen), usia 10–14 tahun sebanyak 988 kasus (9,91 persen), serta remaja usia 15–19 tahun sebanyak 855 kasus (8,58 persen).
Sementara itu, lansia usia 60 tahun ke atas tercatat sebanyak 804 kasus (8,06 persen), dan bayi di bawah satu tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus paling sedikit, yakni 443 kasus (4,44 persen).

Selain ISPA, fluktuasi juga terjadi pada kasus diare sepanjang periode yang sama. Dinkes Samarinda mencatat 946 kasus pada Juli, yang kemudian menurun menjadi 892 kasus pada Agustus. Kasus sempat naik menjadi 1.104 kasus pada September sebelum kembali melandai menjadi 849 kasus hingga 23 Oktober 2026.
Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta mengantisipasi perubahan cuaca guna menekan risiko penularan penyakit pernapasan maupun pencernaan melalui kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
Masyarakat juga diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk akibat debu atau asap karhutla. "Imbauan masyarakat tetap menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan," tutup Ismed.
Editor: Aspian Nur









428 kali dibaca



Pusat gempa berada di laut 30 km timur laut Mbay, Nagekeo
26 Okt 2026, 11:53:42 WIB • Kedalaman 13 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG
