Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM SAMARINDA - Asap berbau menyengat masih mengepung kawasan Pelita 8, RT 08, Kelurahan Sambutan, Kecamatan Sambutan, Samarinda, sejak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 3 Oktober 2026.
Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM SAMARINDA - Asap berbau menyengat masih mengepung kawasan Pelita 8, RT 08, Kelurahan Sambutan, Kecamatan Sambutan, Samarinda, sejak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 3 Oktober 2026.
Kepulan asap yang diduga merambat hingga membakar lapisan batu bara di bawah tanah itu belum juga mereda, memicu kekhawatiran warga terhadap dampak kesehatan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Salah seorang warga Pelita 8, Yudif mengatakan asap terus mengepul selama 24 jam dan menyebar ke sejumlah titik permukiman, bahkan mendekati Jalan Sultan Sulaiman. Bau menyengat masih dirasakan warga saat beraktivitas sehari-hari.
“Di RT 8 ini sumber asapnya sudah merata. Api dari karhutla yang sebelumnya terlihat padam diduga menjalar ke bawah dan mengenai batu bara di dalam tanah. Asapnya tidak padam-padam dan sudah sampai ke pinggir Jalan Sultan Sulaiman,” ujar Yudif pada Minggu (18/10/2026)
Menurutnya, paparan asap yang berlangsung terus-menerus membuat warga khawatir terhadap kondisi kesehatan. Sejumlah masyarakat mengeluhkan sesak napas, batuk, hingga pilek, meski jumlah pasti warga yang mengalami gangguan kesehatan belum dapat dipastikan.
Dampak tersebut menjadi perhatian setelah dua orang dilaporkan sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit. Salah satunya merupakan seorang anak yang mengalami batuk, pilek, dan mata merah.
Yudif mengatakan kondisi anak tersebut mulai membaik setelah diperbolehkan pulang. Namun, fisiknya masih lemas sehingga harus menjalani kontrol lanjutan di Rumah Sakit Dirgahayu.
“Alhamdulillah sekarang sudah membaik. Namun, kondisi fisik anaknya masih lemas dan hari ini masih kontrol ke Rumah Sakit Dirgahayu,” katanya.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan menangani sumber asap agar tidak terus mengganggu kesehatan masyarakat.
“Harapan kami sebagai warga Pelita 8, kami minta tolong agar pemerintah serius dan segera menangani asap di daerah kami. Masalahnya, asap dari batu bara yang terbakar ini terlalu menyengat bagi warga,” tegas Yudif.
Sementara itu, Ketua RT 08 Pelita 8, Maulana membenarkan bahwa asap dari kebakaran pada 3 Oktober lalu masih mengepul hingga sekarang. Menurutnya, kebakaran tersebut cukup hebat dan diduga tidak hanya membakar lahan gambut, tetapi juga lapisan batu bara di bawah tanah.
“Betul, sampai sekarang wilayah Pelita 8 masih mengeluarkan asap dampak dari karhutla tanggal 3 Oktober lalu. Kebakarannya bisa dikatakan sangat hebat, jadi masih menyisakan sampai sekarang karena yang terbakar bukan hanya lahan gambutnya saja,” ujar Maulana.
Maulana menyebut pendataan sementara di tingkat RT baru mencatat dua anak, sementara laporan lain masih diterima. Ia memperkirakan sekitar lima hingga 10 orang dari kelompok rentan berpotensi terdampak, bahkan bisa lebih. Namun, angka tersebut belum terverifikasi karena belum semua warga melaporkan keluhannya.
“Kalau kelompok rentan, mungkin ada lima sampai 10 orang, bahkan bisa lebih. Terus terang, belum semuanya berani melapor. Informasinya masih dari mulut ke mulut masyarakat,” jelasnya.
Ia mengimbau warga membatasi aktivitas di luar rumah, memperkecil bukaan ventilasi agar asap tidak mudah masuk, serta segera melapor jika mengalami gangguan kesehatan. Pengurus RT dapat berkoordinasi dengan puskesmas terdekat untuk membantu warga yang membutuhkan penanganan.
Editor: Erwin
Kepulan asap yang diduga merambat hingga membakar lapisan batu bara di bawah tanah itu belum juga mereda, memicu kekhawatiran warga terhadap dampak kesehatan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Salah seorang warga Pelita 8, Yudif mengatakan asap terus mengepul selama 24 jam dan menyebar ke sejumlah titik permukiman, bahkan mendekati Jalan Sultan Sulaiman. Bau menyengat masih dirasakan warga saat beraktivitas sehari-hari.
“Di RT 8 ini sumber asapnya sudah merata. Api dari karhutla yang sebelumnya terlihat padam diduga menjalar ke bawah dan mengenai batu bara di dalam tanah. Asapnya tidak padam-padam dan sudah sampai ke pinggir Jalan Sultan Sulaiman,” ujar Yudif pada Minggu (18/10/2026)
Menurutnya, paparan asap yang berlangsung terus-menerus membuat warga khawatir terhadap kondisi kesehatan. Sejumlah masyarakat mengeluhkan sesak napas, batuk, hingga pilek, meski jumlah pasti warga yang mengalami gangguan kesehatan belum dapat dipastikan.

Dampak tersebut menjadi perhatian setelah dua orang dilaporkan sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit. Salah satunya merupakan seorang anak yang mengalami batuk, pilek, dan mata merah.
Yudif mengatakan kondisi anak tersebut mulai membaik setelah diperbolehkan pulang. Namun, fisiknya masih lemas sehingga harus menjalani kontrol lanjutan di Rumah Sakit Dirgahayu.
“Alhamdulillah sekarang sudah membaik. Namun, kondisi fisik anaknya masih lemas dan hari ini masih kontrol ke Rumah Sakit Dirgahayu,” katanya.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan menangani sumber asap agar tidak terus mengganggu kesehatan masyarakat.
“Harapan kami sebagai warga Pelita 8, kami minta tolong agar pemerintah serius dan segera menangani asap di daerah kami. Masalahnya, asap dari batu bara yang terbakar ini terlalu menyengat bagi warga,” tegas Yudif.
Sementara itu, Ketua RT 08 Pelita 8, Maulana membenarkan bahwa asap dari kebakaran pada 3 Oktober lalu masih mengepul hingga sekarang. Menurutnya, kebakaran tersebut cukup hebat dan diduga tidak hanya membakar lahan gambut, tetapi juga lapisan batu bara di bawah tanah.
“Betul, sampai sekarang wilayah Pelita 8 masih mengeluarkan asap dampak dari karhutla tanggal 3 Oktober lalu. Kebakarannya bisa dikatakan sangat hebat, jadi masih menyisakan sampai sekarang karena yang terbakar bukan hanya lahan gambutnya saja,” ujar Maulana.
Maulana menyebut pendataan sementara di tingkat RT baru mencatat dua anak, sementara laporan lain masih diterima. Ia memperkirakan sekitar lima hingga 10 orang dari kelompok rentan berpotensi terdampak, bahkan bisa lebih. Namun, angka tersebut belum terverifikasi karena belum semua warga melaporkan keluhannya.






“Kalau kelompok rentan, mungkin ada lima sampai 10 orang, bahkan bisa lebih. Terus terang, belum semuanya berani melapor. Informasinya masih dari mulut ke mulut masyarakat,” jelasnya.
Ia mengimbau warga membatasi aktivitas di luar rumah, memperkecil bukaan ventilasi agar asap tidak mudah masuk, serta segera melapor jika mengalami gangguan kesehatan. Pengurus RT dapat berkoordinasi dengan puskesmas terdekat untuk membantu warga yang membutuhkan penanganan.
Editor: Erwin


Pusat gempa berada di laut 56 km utara Ruteng
18 Okt 2026, 15:02:46 WIB • Kedalaman 5 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG