Senin, 10/08/2026
Senin, 10/08/2026
Aktivitas nelayan tangkap di Kota Samarinda pada saat KKN mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unmul di Keramba Jaring Apung di Samarinda (istimewa).
Senin, 10/08/2026

Aktivitas nelayan tangkap di Kota Samarinda pada saat KKN mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unmul di Keramba Jaring Apung di Samarinda (istimewa).
Penulis : M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Aktivitas nelayan tangkap di Kota Samarinda masih sangat bergantung pada kondisi cuaca. Dibandingkan fenomena El Nino, gelombang tinggi dan angin kencang dinilai menjadi faktor yang lebih langsung memengaruhi kemampuan nelayan untuk melaut. Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kota Samarinda, Ratnawati kepada Korankaltim.com Senin 910/8/2026) hari ini menjelaskan, mayoritas nelayan di Samarinda merupakan nelayan skala kecil yang menggunakan kapal berukuran kecil serta alat tangkap tradisional.
Kondisi tersebut membuat aktivitas mereka sangat bergantung pada keamanan perairan. Ketika gelombang tinggi dan angin kencang terjadi, nelayan terpaksa mengurangi aktivitas atau bahkan tidak melaut.
“Kalau cuaca panas tidak terlalu berpengaruh. Yang paling memengaruhi adalah gelombang tinggi dan angin karena nelayan menjadi sulit melaut,” jelas Ratnawati.
Kondisi tersebut berbeda dengan dampak El Nino yang lebih banyak berkaitan dengan perubahan suhu dan pola cuaca. Bagi nelayan tangkap, kondisi perairan secara langsung menjadi pertimbangan utama sebelum menentukan waktu melaut.
Produksi ikan yang masuk ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Selili hingga saat ini masih berlangsung. Berbagai jenis ikan tetap didatangkan setiap hari dengan jumlah yang menyesuaikan hasil tangkapan.
“Setiap hari ada berbagai jenis ikan yang masuk ke TPI Selili dan seluruh datanya kami catat. Sejauh ini pasokan masih tersedia,” sebut Ratna lagi. Ketersediaan ikan di Samarinda tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan nelayan lokal.
Pasokan juga berasal dari ikan budidaya sehingga kebutuhan masyarakat masih dapat terpenuhi ketika hasil tangkapan nelayan mengalami penurunan.
“Selama ini kami tidak pernah mengalami kekurangan ikan. Bahkan masih ada ikan yang tersisa untuk dijual pada hari berikutnya.
Selain hasil tangkapan nelayan, pasokan juga berasal dari ikan budidaya,” ungkap Ratna.
Saat ini terdapat sekitar 40 agen di TPI Selili yang memperdagangkan berbagai jenis ikan sungai maupun ikan laut. Keberadaan agen menjadi bagian penting dalam menjaga distribusi ikan ke masyarakat.
Dinas Perikanan Kota Samarinda terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas pendaratan ikan dan kondisi pasokan. Imbauan kepada nelayan juga diberikan agar mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum melaut.
Bagi nelayan kecil, kondisi gelombang dan angin bukan hanya berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan, tetapi juga menjadi faktor keselamatan yang menentukan apakah mereka dapat menjalankan aktivitas di laut maupun perairan.
Editor: Aspian Nur
Senin, 10/08/2026
Aktivitas nelayan tangkap di Kota Samarinda pada saat KKN mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unmul di Keramba Jaring Apung di Samarinda (istimewa).
TERPOPULER