Kamis, 30/07/2026
Kamis, 30/07/2026
Kota Samarinda sepenuhnya aman dari bencana geologi, sehingga pemerintah dan masyarakat diminta memperkuat mitigasi. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
Kamis, 30/07/2026

Kota Samarinda sepenuhnya aman dari bencana geologi, sehingga pemerintah dan masyarakat diminta memperkuat mitigasi. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Anggapan bahwa Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya Kota Samarinda, sepenuhnya aman dari bencana geologi diminta tidak lagi menjadi pegangan.
Ancaman seperti tanah longsor, gempa bumi, hingga tsunami tetap berpotensi terjadi, sehingga mitigasi harus menjadi bagian dari setiap pembangunan.
Peringatan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria dalam kegiatan sosialisasi mitigasi bencana geologi di Hotel Bumi Senyiur pada Kamis (30/7/2026).
Selama ini, Kalimantan memang dikenal sebagai wilayah yang relatif stabil dari sisi aktivitas tektonik dibandingkan Pulau Sumatra, Jawa, maupun Sulawesi. Namun, kondisi tersebut bukan berarti Bumi Etam terbebas dari ancaman bencana geologi.
“Hal terpenting adalah bagaimana kesiapsiagaan kita menghadapi potensi tersebut,” kata Lana.
Ancaman terbesar di Kaltim justru berasal dari tanah longsor yang dipicu curah hujan tinggi serta perubahan tata guna lahan.
Aktivitas pembangunan yang tidak memerhatikan kondisi geologi dapat meningkatkan risiko terjadinya bencana.
“Yang menjadikan bencana adalah ketika pembangunan dan aktivitas manusia tidak memerhatikan kondisi geologi wilayahnya,” katanya.
Selain longsor, Lana menyebut potensi gempa bumi akibat sesar aktif maupun pengaruh gempa regional tetap perlu menjadi perhatian dalam pembangunan infrastruktur.
Kawasan pesisir timur Kalimantan juga berpotensi tsunami, meski tingkat risikonya lebih rendah dibandingkan daerah yang berhadapan langsung dengan zona subduksi.
Meski Kaltim tidak memiliki gunung api aktif, masyarakat tetap perlu memahami mitigasi bencana vulkanik. Pasalnya, erupsi gunung api di daerah lain dapat berdampak hingga ke Kalimantan.
Sebagai contoh, erupsi Gunung Ruang di Sulawesi Utara pada 2024 menyebabkan sebaran abu vulkanik mencapai wilayah Kalimantan dan sempat mengganggu transportasi udara.
Oleh karena itu, mitigasi tidak boleh dilakukan setelah bencana terjadi. Upaya tersebut harus dimulai sejak tahap perencanaan pembangunan melalui penyediaan informasi geologi yang akurat, pemanfaatan peta kawasan rawan bencana, hingga penyusunan tata ruang berbasis kondisi geologi.
Sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah daerah dan masyarakat, peta prakiraan potensi gerakan tanah, peta kawasan rawan bencana, peta kerentanan gerakan tanah, hingga berbagai informasi kebencanaan diterbitkan secara rutin melalui aplikasi MAGMA Indonesia.
Lana mengimbau masyarakat agar memanfaatkan informasi resmi tersebut dan tidak mudah memercayai kabar yang belum dipastikan kebenarannya.
“Silakan melihat informasi melalui aplikasi MAGMA Indonesia. Informasinya diperbarui secara real-time selama 24 jam,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Kamis, 30/07/2026
Kota Samarinda sepenuhnya aman dari bencana geologi, sehingga pemerintah dan masyarakat diminta memperkuat mitigasi. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
TERPOPULER