Jumat, 17/07/2026

Lumba-lumba Masuk Sungai Mahakam, BKSDA Sebut Faktor Air Payau

Jumat, 17/07/2026

Tangkapan layar hewan yang di duga lumba-lumba saat berenang di aliran Sungai Mahakam. (Foto: Istimewa)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Lumba-lumba Masuk Sungai Mahakam, BKSDA Sebut Faktor Air Payau

Jumat, 17/07/2026

logo

Tangkapan layar hewan yang di duga lumba-lumba saat berenang di aliran Sungai Mahakam. (Foto: Istimewa)

Penulis: Rahmat Surya 

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Kemunculan seekor lumba-lumba yang terekam berenang di aliran Sungai Mahakam hingga wilayah Kota Samarinda beberapa waktu lalu sempat menghebohkan masyarakat dan menjadi perbincangan di media sosial.

Dalam hal ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim menilai satwa tersebut kemungkinan besar merupakan lumba-lumba laut dan bukan Pesut Mahakam.

Seperti yang disampaikan oleh Pengendali Ekosistem Hutan Muda BKSDA Kaltim, Ahmad Ripai, bahwa setelah melakukan identifikasi awal berdasarkan rekaman video yang beredar, menurutnya, bentuk fisik satwa tersebut lebih menyerupai lumba-lumba karena memiliki moncong yang cukup jelas.

“Kalau dilihat sepintas dari videonya memang seperti lumba-lumba. Ada moncongnya, sedangkan pesut tidak memiliki moncong seperti itu,” ujar Ripai saat dikonfirmasi Koran Kaltim, Jumat (17/7/2026).

Dia menjelaskan, masuknya lumba-lumba ke aliran Sungai Mahakam diduga dipengaruhi kondisi musim kemarau yang menyebabkan debit sungai menurun. Saat air sungai surut, kata Ripai, air laut dapat terdorong masuk lebih jauh ke hulu sehingga membentuk kawasan air payau yang masih dapat ditoleransi oleh lumba-lumba.

Dia menjelaskan, masuknya lumba-lumba ke aliran Sungai Mahakam diduga dipengaruhi kondisi musim kemarau yang menyebabkan debit sungai menurun.

Saat air sungai surut, kata Ripai, air laut dapat terdorong masuk lebih jauh ke hulu sehingga membentuk kawasan air payau yang masih dapat ditoleransi oleh lumba-lumba.

“Karena jika diperhatikan kita ini sudah cukup lama mengalami kemarau, air asin dari laut kemungkinan sudah mulai masuk ke Sungai Mahakam. Dan lumba-lumba kemungkinan mengikuti aliran air payau tersebut hingga masuk ke wilayah Samarinda,” ucapnya.

Menurut Ripai, fenomena tersebut merupakan hal yang memungkinkan terjadi selama kondisi air masih bercampur dengan air laut. Sebaliknya, jika kondisi sungai kembali didominasi air tawar, lumba-lumba diperkirakan akan kembali menuju habitat aslinya di perairan laut.

Meski demikian, ia memperkirakan jangkauan air payau di Sungai Mahakam tidak akan mencapai wilayah Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara. Potensi masuknya air laut diperkirakan hanya mampu menjangkau kawasan sekitar Loa Duri.

“Kalau sampai Kota Bangun rasanya tidak, sebab potensi air payau paling jauh kemungkinan hanya sampai Loa Duri,” tutupnya.

Editor: Erwin

Lumba-lumba Masuk Sungai Mahakam, BKSDA Sebut Faktor Air Payau

Jumat, 17/07/2026

Tangkapan layar hewan yang di duga lumba-lumba saat berenang di aliran Sungai Mahakam. (Foto: Istimewa)

Share

Berita Terkait