Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda kini tengah menghitung total kerugian sekaligus menyusun rencana rehabilitasi gedung. Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Samarinda Wahiduddin menyebutkan, kerusakan yang terjadi cukup signifikan dan memerlukan penanganan cepat.
Berdasarkan pendataan, total terdapat delapan ruang kelas yang terdampak, dengan enam di antaranya mengalami kerusakan berat. Kerusakan tersebut terbagi antara lantai atas dan lantai bawah, ditambah satu unit bangunan musala. Selain merusak struktur fisik bangunan, kobaran api juga melahap berbagai inventaris penting yang berada di dalam ruang kelas.
Tercatat ada sebanyak 256 pasang meja dan kursi siswa ludes terbakar, bersama dengan 32 unit kipas angin yang menjadi fasilitas penunjang belajar. Kerugian juga mencakup 8 unit papan tulis dan lemari kelas, serta 2 unit pendingin ruangan (AC) yang turut rusak pada musibah tersebut.
Kendati demikian Wahiduddin menegaskan perbaikan nantinya tidak hanya menyasar fisik bangunan, tetapi juga peremajaan instalasi listrik guna mencegah insiden serupa. "Termasuk instalasi listrik yang memadai. Kalau awalnya penyebab korsleting, maka jangan sampai terulang kembali,” kata Wahiduddin.
Adapun estimasi kebutuhan anggaran perbaikan awal diprediksi sekitar Rp2 Miliar, meski angka ini masih menunggu perhitungan teknis final. Sambil menunggu proses rehabilitasi, pihak sekolah telah menyiapkan skema pembelajaran agar hak belajar siswa tetap terpenuhi.
Mulai 6 hingga 16 April pekan depan siswa kelas 7 dan 8 di seluruh Kota Tepian disebut akan menjalani pembelajaran daring karena bertepatan dengan pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) bagi siswa kelas 9. Kepala SMPN 2 Samarinda Misradianto menjelaskan, setelah masa ujian kelas 9 berakhir, delapan kelas yang ruangannya terbakar akan melanjutkan KBM secara daring secara bergantian hingga pertengahan Mei.
“Kami rencanakan siswa dari delapan kelas ini daring secara bergantian sampai pertengahan Mei. Setelah kelas sembilan selesai ujian dan tidak lagi hadir di sekolah, baru kegiatan belajar bisa kembali normal,” terang Misradianto.
Opsi memindahkan siswa ke sekolah lain sempat dipertimbangkan, namun dibatalkan karena potensi kendala mobilitas guru dan keterbatasan ruang di sekolah tujuan. "Kalau pindah ke sekolah lain belum tentu ada ruangannya. Guru juga bisa kerepotan harus berpindah tempat,” jelasnya.
Terkait penggunaan ruang kelas lantai bawah yang secara fisik tampak masih bisa digunakan, pihak sekolah memilih untuk tetap mengosongkannya demi alasan keselamatan selama masa pengerjaan proyek perbaikan di lantai atas.
“Bangunannya memang masih bisa digunakan, tapi karena dua tingkat, kalau di atas diperbaiki sementara di bawah ada siswa belajar itu berisiko,” tutup Misradianto.
Editor: Aspian Nur