Kejadian bermula pada Jumat malam (6/3/2026) ketika bayi tersebut dibawa ke Instalasi Gawat Darurat karena muntah-diare dan kondisi tubuh yang melemah. Tenaga medis memasang infus untuk mengatasi dehidrasi.
“Ketika pertama tiba, dokter bilang dia perlu cairan. Infus langsung dipasang di tangan kirinya,” ujar Rafita (28), ibu sang bayi, Selasa (31/3/2026).
Ia mengatakan, infus sempat terlepas sehingga petugas memindahkan pemasangan ke tangan kanan. Sejak saat itu, bayi menangis tanpa henti dan tampak kesakitan.
“Kami melihat dia benar-benar tidak nyaman. Tangisnya keras dan terus-menerus, berbeda dari biasanya,” ungkapnya.
Puncak kekhawatiran terjadi, Minggu (8/3/2026) pagi ketika pemeriksaan lanjutan menunjukkan tangan bayi membengkak parah. Menurut keluarga, petugas medis menjelaskan cairan infus tidak masuk ke pembuluh darah, melainkan meresap ke jaringan tubuh.
“Begitu perban dibuka, bengkaknya besar sekali. Kami diberi tahu cairannya tidak mengalir ke pembuluh darah,” jelas Rafita.
Pembengkakan bahkan diduga menjalar hingga ke dada. Kulit di sekitar area tindakan menghitam dan tampak melepuh. Dokter sempat menyarankan operasi oleh tim bedah plastik, namun keluarga menolak karena usia bayi masih sangat kecil.
“Kami datang untuk muntaber, bukan untuk menghadapi operasi. Kami takut risikonya,” katanya.
Menurut keluarga, perawatan lanjutan hanya berupa pembersihan luka dan pergantian balutan tanpa tindakan lebih intensif.
“Kami hanya ingin dia pulih seperti sebelumnya,” ucapnya.
Humas RSUD AWS, dr Arysia, menyatakan pihak rumah sakit masih melakukan koordinasi internal dan belum dapat memberikan keterangan lengkap.
“Kami akan menyampaikan informasi lebih lanjut setelah proses internal selesai,” pungkasnya.
Editor: Erwin