Wali Kota Samarinda, Andi Harun mengatakan bahwa pemusatan kegiatan tersebut juga ditujukan untuk menekan risiko kebakaran, serta meminimalkan potensi gangguan ketertiban di sejumlah titik rawan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Potensi gangguan ketertiban mulai dari peredaran minuman keras, aktivitas tempat hiburan malam, hingga balap liar yang kerap muncul jelang pergantian tahun juga diantisipasi.
“Kita ingin menghindari kebakaran dan sejenisnya dan konsentrasi massa di titik rawan kita imbau untuk tidak dilaksanakan,” kata Andi Harun, Senin, (8/12/2025).
Di saat bersamaan, kesiapsiagaan bencana turut diperkuat. Curah hujan di Samarinda saat ini rata-rata berada di atas 50 milimeter per hari.
Jika hujan terjadi dua hingga tiga hari berturut-turut, maka risiko banjir dan longsor berpotensi meningkat. Karena itu, langkah yang ditempuh bersifat antisipatif dan edukatif agar masyarakat tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan.
“Bencana adalah sesuatu yang tidak bisa diperkirakan, sehingga kita semua termasuk masyarakat harus menyiapkan diri seperti memahami informasi kebencanaan,” terangnya.
Stabilitas harga dan ketersediaan kebutuhan pokok juga disiapkan sejak dini menjelang Nataru.
Skema operasi pasar telah disusun sebagai langkah antisipasi jika terjadi lonjakan harga atau kelangkaan barang, dengan pelaksanaan yang tetap terukur agar tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi.
Pemantauan dilakukan melalui inspeksi langsung ke lapangan serta pengawasan distribusi. Apabila kelangkaan terjadi, baik karena faktor alam maupun praktik penimbunan, langkah lanjutan telah disiapkan.
Sehingga, kata Andi Harun, tindakan yang terbukti sengaja menaikkan harga di atas kewajaran akan ditindak melalui mekanisme penegakan hukum.
“Agar masyarakat tetap dapat melaksanakan kegiatan Nataru, Ramadan, dan Idulfitri dalam keadaan lancar, kita minimalkan potensi gangguan,” pungkasnya.
Editor: Erwin