Dalam lima tahun terakhir, angka pengangguran perlahan menurun, dan diproyeksikan terus membaik hingga 2029. Data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Samarinda menunjukkan, pada 2020 TPT Samarinda berada di angka 8,26 persen.
Angka tersebut sedikit turun pada 2021 menjadi 8,16 persen, lalu kembali menurun pada 2022 menjadi 6,78 persen. Tren penurunan berlanjut pada 2023 di level 5,92 persen dan 2024 menjadi 5,75 persen.
Jika ditinjau berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki pada 2020 tercatat 8,80 persen dan perempuan 7,36 persen. Pada 2024, TPT laki-laki turun menjadi 5,01 persen, sementara perempuan berada di angka 6,97 persen.
Data ini menunjukkan penurunan cukup signifikan pada kelompok laki-laki, sementara pengangguran perempuan masih relatif lebih tinggi.
Untuk proyeksi lima tahun ke depan, TPT Samarinda diperkirakan terus menurun. Pada 2025, TPT diproyeksikan di angka 5,57 persen, lalu turun menjadi 5,41 persen pada 2026, 5,24 persen pada 2027, 5,05 persen pada 2028, dan menyentuh 4,88 persen pada 2029.
Dari sisi jenis kelamin, proyeksi 2029 menunjukkan TPT laki-laki berada di angka 4,26 persen dan perempuan 5,91 persen. Selisih ini menunjukkan tantangan pengurangan pengangguran perempuan masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.
Untuk menekan angka pengangguran tersebut, Disnaker Samarinda menyiapkan sejumlah strategi. Fokus utama diarahkan pada peningkatan kualitas dan daya saing tenaga kerja melalui pelatihan berbasis kebutuhan pasar kerja, sertifikasi kompetensi, pembinaan lembaga pelatihan kerja, serta peningkatan produktivitas.
“Kami berusaha memahami apa yang diminati masyarakat, mengapa sampai tidak bekerja, dan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan,” kata Kepala Disnaker Samarinda, Yuyum Puspitaningrum, Rabu, (3/12/2025).
Upaya lain dilakukan dengan memperluas kesempatan kerja melalui bursa kerja, pelaksanaan job fair, perluasan akses penempatan tenaga kerja, serta pelatihan bagi kelompok rentan termasuk penyandang disabilitas.
Di sisi lain, penguatan hubungan Industrial juga menjadi perhatian melalui pembinaan serikat pekerja, perlindungan jaminan sosial, forum tripartit, serta penguatan dewan pengupahan.
Strategi tersebut dijalankan dengan skema kolaborasi lintas sektor. Pemagangan dalam negeri digerakkan bersama Disnakertrans Provinsi Kalimantan Timur dan Kementerian Ketenagakerjaan.
Pelatihan berbasis kompetensi juga dijalankan bersama Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda serta balai pelatihan lainnya.
Perluasan kesempatan kerja turut melibatkan perguruan tinggi dan sekolah kejuruan melalui bursa kerja khusus, termasuk di lingkungan SMK di Samarinda. Sinergi ini diarahkan agar lulusan lebih cepat terserap pasar kerja.
Dengan proyeksi tren penurunan TPT hingga 2029, Yuyum optimis upaya pengembangan keterampilan, sertifikasi, serta perluasan kesempatan kerja dapat menjadi kunci mempercepat pemulihan dan memperkuat daya saing tenaga kerja lokal di tengah ketatnya pasar kerja. “Optimasi penempatan tenaga kerja juga terus kami lakukan,” pungkasnya.
Editor: Erwin