Konfercab yang memakan waktu nyaris dua pekan itu mencerminkan tingginya tensi perdebatan, tarik-menarik gagasan, hingga konsolidasi antar-komisariat.
Namun bagi Fawwaz, panjangnya proses tersebut adalah bukti bahwa kader HMI masih memiliki energi dan idealisme yang kuat dalam menentukan arah organisasi.
“Dinamika selama 11 hari itu bukan hambatan, tapi gambaran bahwa kader peduli. Sekarang tugas kami adalah menerjemahkan energi itu menjadi program yang konkret dan sesuai kebutuhan era sekarang,” ujar Fawwaz, usai terpilih sebagai Formateur Ketua Umum HMI Samarinda, Selasa (1/12/2025).
Menurutnya, tantangan kader HMI hari ini tidak lagi tunggal. Mereka menghadapi perubahan digital, kompetisi akademik, kebutuhan profesional, hingga isu-isu publik yang berkembang cepat. Karena itu, langkah pertamanya adalah membenahi sistem kaderisasi agar lebih substantif dan relevan.
“Kader perlu kemampuan analisis, literasi digital, pemahaman isu publik, dan kapasitas kepemimpinan. Ini tidak bisa diberikan dengan pola lama. Kami akan reformasi materi kaderisasi dan memperkuat ruang-ruang intelektual,” tegasnya.
Pembenahan ini akan menyasar revisi materi LK, menghadirkan pemateri yang kompeten, hingga menyediakan forum kajian secara rutin.
Dalam upaya menjawab tantangan zaman, Fawwaz menyiapkan program digitalisasi untuk mempercepat manajemen internal dan memperkuat komunikasi antar-komisariat. Platform digital direncanakan untuk mengelola kegiatan, publikasi gagasan, hingga mempererat jejaring alumni.
“Organisasi modern harus punya instrumen modern. Digitalisasi ini bukan gaya-gayaan, tapi kebutuhan,” jelasnya.
Selain internal, Fawwaz ingin memastikan HMI Samarinda lebih hadir dalam isu-isu daerah. Menurutnya, kader perlu diberi ruang agar mampu memberikan kontribusi pemikiran melalui tulisan opini, kajian kebijakan, hingga advokasi akademik.
“HMI tidak boleh hanya ramai dalam forum internal. Kita harus tampil di ruang publik dengan gagasan yang matang,” katanya.
Setelah proses Konfercab yang intens, Fawwaz menilai langkah krusial selanjutnya adalah membangun harmoni internal. Ia menyebut, 11 hari dinamika telah menguras energi, tetapi juga membuka ruang untuk rekonsiliasi dan penyatuan gerak.
“Perbedaan selama Konfercab harus selesai di forum. Setelah ini, semua komisariat adalah satu barisan. Saya ingin memulai periode ini dengan konsolidasi yang damai, rapi, dan terukur,” ungkapnya.
Fawwaz yakin momentum pasca-Konfercab yang penuh dinamika adalah titik awal untuk membangun organisasi yang lebih adaptif, relevan, dan progresif. Ia berharap seluruh kader dapat bersama-sama menjalankan pembaruan sesuai tuntutan era saat ini.
“HMI adalah tempat untuk bertumbuh. Saya ingin memastikan setiap kader mendapatkan ruang itu dengan kualitas yang lebih baik dan visi yang sesuai dengan tantangan zaman,” tutupnya.
Editor: Erwin