Hadirnya pusat pemerintahan baru tersebut disebut dapat menjadi dorongan kuat bagi daerah untuk memperkenalkan potensi wisata yang lebih beragam dan bernilai strategis.
Anggota DPRD Kaltim Fuad Fakhruddin mengingatkan peluang ini tidak seharusnya hanya digunakan untuk mempercantik atau memperbarui destinasi wisata yang sudah ada. Pemerintah daerah perlu melihat kesempatan ini sebagai jalan untuk mengembangkan objek wisata baru yang berbasis sejarah serta kebudayaan lokal.
“Sekarang ini anggaran besar, PAD juga cukup tinggi. Jadi sudah saatnya Pemprov menghadirkan pembaruan di sektor wisata. Jangan hanya bertumpu pada destinasi yang itu-itu saja,” kata Fuad kepada Korankaltim.com Selasa (18/11/2025).
Kaltim menyimpan banyak jejak sejarah dan kekayaan budaya yang belum dipromosikan dengan maksimal. Satu yang ia soroti adalah peninggalan Kerajaan Kutai di Muara Kaman, kerajaan Hindu tertua di Indonesia namun belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
“Banyak orang tidak tahu kalau asal mula kerajaan Hindu itu ada di Muara Kaman. Ini seharusnya bisa dikembangkan sebagai tempat belajar dan memahami garis sejarah Nusantara,” tegas politisi Fraksi Golkar tersebut.
Wisata sejarah tidak sekadar menjadi lokasi rekreasi, tetapi juga sarana edukasi yang mampu memperkuat identitas dan karakter masyarakat daerah. Karena itu Fuad berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim dapat menciptakan konsep wisata edukatif yang menggabungkan nilai historis, budaya, dan daya tarik wisata modern.
“Kalau dikelola dengan baik, wisata sejarah seperti peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara ini memiliki nilai jual yang tinggi. Ini bukan hanya tempat yang dikunjungi, tetapi warisan bersejarah yang membentuk jati diri masyarakat Kaltim,” tutupnya.
Editor: Aspian Nur