Api yang mulai terlihat sekitar pukul 05.00 WITA dengan cepat membesar dan melahap seluruh bangunan kandang berukuran 9x100 meter milik warga bernama Heri. Setelah tiga jam Petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kota Samarinda baru berhasil memadamkan api, tepatnya sekitar pukul 07.50 WITA.
Tiga mobil pemadam diterjunkan, masing-masing dari Posko 6 Regu 3 menggunakan armada Bagas Pati, Leopard, dan URC 06. Kobaran api sempat membuat warga sekitar panik karena terlihat menjulang tinggi dari kejauhan.
Komandan Regu 3 Posko 6 Dedy Wahyudi kepada Korankaltim.com menjelaskan, saat petugas tiba di lokasi api sudah menyelimuti hampir seluruh bangunan kandang. “Begitu kami sampai, api sudah besar dan cepat menyebar karena material bangunan dari kayu dan seng,” ujar Dedy.
Timnya langsung berfokus melakukan pembatasan agar api tidak merembet ke kandang lain di sekitar area. “Kami upayakan supaya kobaran tidak menjalar ke bangunan terdekat. Kondisi di lapangan cukup sulit karena api menyebar sangat cepat,” papar Dedy.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun seluruh ayam di dalam kandang tidak dapat diselamatkan. Diperkirakan sekitar 19 ribu ekor ayam mati terbakar dengan total kerugian mencapai ratusan juta rupiah mengingat bangunan dan seluruh isi kandang habis terbakar.
Kepala Disdamkar Kota Samarinda Hendra AH menjelaskan, dugaan awal sumber api berasal dari korsleting listrik pada alat pemanas ayam.
“Dari laporan petugas kami, titik api muncul dari bagian pemanas kandang. Kemungkinan terjadi korsleting atau alat dibiarkan terlalu lama menyala,” kata Hendra.
Hendra juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan keamanan instalasi listrik di area peternakan. “Kami imbau para peternak agar rutin memeriksa alat pemanas dan kabel listrik. Jangan biarkan alat menyala tanpa pengawasan, apalagi saat udara lembap seperti sekarang,” ucapnya.
Hingga kini petugas melakukan pembersihan sisa puing di lokasi kebakaran. Area kandang kini telah dipasangi garis pengaman, sementara pemilik dibantu warga setempat membersihkan sisa bangkai ayam dan reruntuhan bangunan.
Editor: Aspian Nur