Salah satu warga Bengkuring, Pendi, menceritakan bahwa air masuk ke rumahnya secara tiba-tiba sejak Jumat pagi. Kondisi cuaca saat itu disebut cukup ekstrem dengan intensitas hujan sedang hingga lebat.
Ia mengatakan, seluruh bagian rumah kini tergenang dengan ketinggian air mencapai sekitar 60 sentimeter.
“Untuk saat ini keseluruhan rumah sudah tergenang semua, airnya sekitar 60 sentimeter,” ujarnya.
Akibat banjir tersebut, aktivitas warga sehari-hari menjadi terganggu. Pendi mengaku harus menumpang MCK di rumah tetangga karena dapurnya ikut terendam. Untuk tidur, ia dan keluarganya membuat tempat tidur darurat dari rangka kayu.
“Untuk MCK sementara ikut di tempat tetangga. Kalau tidur kami buat andang, jadi agak tinggi. Anak-anak sementara kami ungsikan dulu,” tuturnya.
Sementara itu, relawan dan tim dari BPBD Kota Samarinda masih terus memantau kondisi banjir. Berdasarkan laporan lapangan, air belum juga surut meski tinggi muka air Sungai Mahakam sudah menunjukkan penurunan.
“Sejak Jumat pagi air belum menunjukkan penurunan, walaupun di TMA sudah turun sekitar 7,09 meter. Tapi di pemukiman belum berkurang karena Sungai Mahakam sedang pasang sekitar 1,7 meter,” ungkap Plt Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, saat ditemui di lokasi, Minggu (26/10/2025).
Data BPBD mencatat, di Kelurahan Bengkuring terdapat tiga RT terdampak, meliputi 255 bangunan dengan 281 kepala keluarga dan 990 jiwa. Sedangkan di Gunung Lingai terdapat lima RT terdampak dengan 210 bangunan, 210 kepala keluarga, dan 840 jiwa. Ia mengatakan pihaknya telah menyiapkan dapur umum untuk membantu warga.
“Hari ini kami siapkan dapur umum di Bengkuring untuk sekitar 500 kepala keluarga,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah kota bersama Pemkab Kukar akan berkoordinasi mencari solusi jangka panjang, termasuk rencana pembangunan folder atau kolam retensi untuk menahan kiriman air dari wilayah Kukar.
Editor: Erwin