Sebelumnya diketahui isu transisi energi yang selama ini dianggap wacana, kini mulai digerakkan melalui sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat.
Langkah konkret itu ditandai dengan digelarnya Seminar Energi Baru Terbarukan (EBT) di Era Net Zero Emission yang akan berlangsung di Gedung Bundar Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul), Senin (27/10/2025) lusa Kegiatan ini diinisiasi oleh PPPSI Kaltim bersama Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).
Sekretaris PPPSI Kaltim sekaligus Ketua Pelaksana, Sukardi menjelaskan, transisi energi tidak boleh hanya dipahami sebagai proyek teknologi. Ia menilai isu ini harus mencakup dimensi sosial, ekonomi, dan kesadaran publik.
“Energi baru terbarukan harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Jangan sampai program hijau ini malah menambah beban hidup rakyat kecil,” ujae Sukardi, Sabtu (25/10/2025).
Seminar ini bukan sekadar forum ilmiah, melainkan ruang kolaborasi untuk menyatukan arah kebijakan. Sukardi menjelaskan, ada empat fokus utama yang akan di bahas, mulai dari menganalisis potensi dan tantangan pengembangan EBT di Kaltim, memperkuat sinergi lintas sektor, serta merumuskan rekomendasi kebijakan energi berkelanjutan yang berkeadilan bagi generasi mendatang.
Ketua PPPSI Kaltim, Uri Darma Putera menambahkan, Kaltim memiliki peran strategis dalam peta energi nasional. Dengan kekayaan sumber daya alam dan kualitas SDM, provinsi ini bisa menjadi “laboratorium energi hijau” Indonesia. Namun, ia menekankan pentingnya prinsip keadilan dalam proses transisi tersebut.
“Transisi energi tidak boleh hanya berpihak pada kepentingan industri besar. Rakyat juga harus ikut menikmati manfaatnya,” ucapnya.
Isu penting lain yang akan dibahas dalam seminar ini meliputi wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), risiko lingkungannya, hingga kontribusi sektor pertanian dan perkebunan terhadap penyediaan energi baru terbarukan.
Sementara itu, Fahrizal, Sekretaris Kegiatan sekaligus Ketua IKA Alumni Faperta Unmul, menjelaskan bahwa seminar nasional ini juga dirangkai dengan pelantikan pengurus IKA Faperta Unmul periode 2025–2029.
“Pesertanya berasal dari akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum. Kampus harus menjadi motor kesadaran transisi energi berkeadilan,” tuturnya.
Editor Aspian Nur