Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Sri Puji Astuti. “Kalau diperhatikan, sebagian besar pelaku masih berusia muda. Ini bukan sekadar persoalan penegakan hukum, tapi juga soal bagaimana perhatian sosial dan pendidikan karakter mulai melemah,” ujar Puji, pada Jumat (24/10/2025).
Arah pembangunan kota selama ini cenderung terpusat pada proyek fisik, sementara pembinaan sosial dan pemberdayaan masyarakat belum menjadi prioritas yang seimbang. “Pemerintah terlalu fokus membangun infrastruktur, tapi lupa menyiapkan ruang kreatif bagi anak muda untuk menyalurkan energi mereka ke kegiatan positif. Akibatnya, banyak yang akhirnya terseret ke perilaku negatif,” tegasnya.
Puji juga menyoroti berkurangnya peran keluarga dan sekolah dalam mengawasi serta membentuk karakter remaja. “Sekarang sekolah lebih banyak mengejar capaian akademik sementara pendidikan karakter makin terpinggirkan. Ditambah lagi banyak orangtua yang sibuk bekerja sehingga pengawasan terhadap anak semakin berkurang,” jelas Puji.
Untuk itu, Komisi IV mendorong Pemerintah Kota Samarinda memperkuat kerja sama lintas instansi, terutama antara Disdikbud, Dinsos dan Disporapar
Hal itu agar pembinaan sosial dan kegiatan pengembangan generasi muda dapat lebih terasa dampaknya di masyarakat. “Perlu ada program nyata di tingkat kelurahan, seperti pelatihan keterampilan, wadah seni, olahraga, hingga wirausaha kecil. Anak-anak muda harus diarahkan agar punya kegiatan yang produktif dan membangun,” ucap Puji.
Menjaga keamanan kota tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum, tetapi juga harus ditopang oleh ketahanan sosial masyarakat.
“Kalau lingkungan sosialnya sehat, keluarga berfungsi dengan baik, dan sekolah menjalankan perannya, angka kriminalitas pasti bisa ditekan. Jadi yang perlu dibenahi bukan cuma pelaku, tapi juga akar persoalannya,” pungkas Puji.
Editor: Aspian Nur