Berdasarkan hasil penyelidikan, AA diketahui menumpang KM Adhitya dari Pelabuhan Samarinda menuju Parepare. Setibanya di pelabuhan tujuan, aparat yang telah mengantongi informasi lebih dulu langsung melakukan pemeriksaan dan menemukan dua karung berisi kristal mematikan tersebut.
Penangkapan ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai lemahnya sistem keamanan di pelabuhan asal. Hingga kini, Pelabuhan Samarinda belum memiliki alat pemindai (x-ray) yang berfungsi mendeteksi barang-barang terlarang bawaan penumpang.
“Memang saat ini belum ada alat x-ray yang beroperasi di Pelabuhan Samarinda. Kami sudah melaporkan hal ini ke kantor pusat dan mengajukan permohonan pengadaan alat baru,” ungkap Ali Akbar, Humas PT Pelindo IV Cabang Samarinda, Selasa (30/9/2025) hari ini.
Menurutnya, proses pengadaan tengah menunggu keputusan manajemen pusat. “Rencana pengadaan sudah diusulkan. Kami berharap bisa terealisasi paling lambat awal tahun depan. Karena alat ini berukuran besar, perlu kajian teknis sebelum dipasang,” kata Ali lagi.
Sebelumnya Pelabuhan Samarinda sempat memiliki satu unit x-ray yang berfungsi untuk memeriksa bagasi penumpang dan kargo kecil. Namun, alat tersebut bukan milik Pelindo. “Dulu alat itu milik pemerintah daerah. Tapi sudah ditarik sejak tahun 2021. Sejak itu, kami belum lagi memiliki perangkat serupa,” ungkapnya.
Keberadaan alat pemindai sangat penting dalam memperkuat sistem keamanan pelabuhan. “Fungsinya sama seperti di bandara. Semua barang bawaan penumpang diperiksa sebelum naik kapal. Tanpa alat itu, pengawasan menjadi lebih sulit,” ujar Ali.
Peristiwa lolosnya sabu-sabu seberat 44 kilogram dari Pelabuhan Samarinda ini menjadi peringatan keras bagi otoritas pelabuhan dan aparat keamanan. Kaltim dinilai memiliki kerawanan tinggi sebagai jalur perlintasan penyelundupan narkotika, baik lewat darat maupun jalur perairan.
Menyusul pengungkapan tersebut, pihak Pelindo memastikan akan memperketat pengawasan dan menambah personel keamanan di area keberangkatan. “Sambil menunggu alat baru datang, pemeriksaan manual akan kami perkuat. Semua barang akan dicek satu per satu,” tutup Ali.
Sementara itu, pihak kepolisian Parepare terus melakukan pengembangan terkait asal-usul sabu yang dikirim dari Samarinda. Polisi menduga, AA hanyalah kurir.
Editor: Aspian Nur