Koordinator Pengawasan Bencana Wilayah BPBD Samarinda, Joko Suprianto, mengatakan timnya bersama pihak kelurahan, RT, dan Babinsa telah turun ke lokasi Jumat (19/9/2025).
Hasil pantauan menunjukkan kontur tanah masih terus bergerak akibat derasnya aliran air dari kawasan atas perbukitan.
“Tanah di sekitar lokasi terus bergerak. Kami sudah himbau warga yang rumahnya terdampak untuk segera pindah sementara ke tempat keluarga agar lebih aman,” ujarnya kepada Korankaltim.com saat ditemui di lokasi kejadian.
Situasi makin mengkhawatirkan setelah subuh hari tadi, sebuah bangunan di sekitar lokasi dilaporkan roboh.
Menyikapi hal itu, BPBD langsung berkoordinasi dengan pemilik rumah untuk dilakukan pembongkaran agar tidak membahayakan warga lain.
Joko mengakui kejadian ini setidaknya dua rumah warga terdampak, yang di huni tiga kepala keluarga dengan sembilan jiwa.
“Tapi untung nya satu rumah sudah ditinggalkan mengungsi sebelum longsor susulan ini terjadi. Jadi kami usulkan ke pemilik rumah untuk di bongkar saja agar tidak membahayakan warga sekitar,” tambahnya.
Menurut Joko, persoalan utama terletak pada aliran air dari kawasan atas yang tidak memiliki jalur pembuangan jelas.
“Air dari atas deras tapi arahnya tidak menentu. Semua larinya ke bawah, membuat tanah jenuh dan akhirnya longsor,” jelasnya.
Untuk penanganan jangka panjang, BPBD Samarinda akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim). Rapat teknis dijadwalkan, Senin (22/9/205) guna membahas pembuangan air dan normalisasi saluran.
“Kami akan arahkan aliran air agar tidak lagi membebani tanah di bawah. Kalau tidak ditangani, longsor akan terus berulang,” tegas Joko.
BPBD juga mengingatkan warga agar tidak meremehkan potensi bencana dan tetap waspada, bahkan meminta untuk mengungsi guna mencegah kejadian yang tak diinginkan.
“Jangan tunggu sampai ada korban. Keselamatan jiwa lebih penting dari harta benda,” pungkasnya.
Editor: Erwin