Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Samarinda memprakirakan curah hujan dengan intensitas ringan hingga menengah terjadi dalam rentang sepekan hingga 10 hari mendatang.
Prakirawan cuaca BMKG Samarinda Wiwi Indasari Azis menjelaskan, saat ini Kaltim memasuki masa peralihan musim.
Fenomena konvergensi atau pertemuan angin di sekitar khatulistiwa memicu pembentukan awan tebal sehingga curah hujan meningkat.
“Untuk puncak hujan dalam 10 hari ke depan masih terlalu jauh diprediksi. Tapi potensi curah hujan berada pada kategori menengah, dengan total 50–150 mm,” ungkap Wiwi, Rabu (3/9/2025).
Hujan diperkirakan turun pada pagi atau sore hari, sering disertai petir dan angin kencang akibat penumpukan awan. Peringatan hujan lebat juga dikeluarkan untuk Samarinda, Balikpapan, serta beberapa kabupaten seperti Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Kutai Timur.
Khusus di Kota Tepian, intensitas hujan diperkirakan mencapai 150 mm dalam 10 hari. Situasi ini perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan banjir maupun longsor di sejumlah titik.
Berdasarkan data rata-rata 30 tahun terakhir, musim hujan biasanya dimulai akhir September hingga pertengahan Oktober. Namun, pada 2025 terjadi pergeseran, di mana puncak hujan yang semula diperkirakan awal Agustus justru lebih cepat hadir di akhir Juli.
“Musim kemarau tahun ini bisa dibilang sangat singkat,” ujarnya.
Perubahan pola tersebut dipengaruhi banyak faktor, termasuk kondisi tutupan lahan dan pemanasan global. Suhu rata-rata meningkat 1–2 derajat celcius dibanding 10 hingga 30 tahun lalu, yang berdampak langsung pada pergeseran pola cuaca.
Untuk mendukung kesiapsiagaan, BMKG secara rutin mengeluarkan peringatan dini melalui media sosial resmi, situs web, hingga aplikasi di App Store dan Play Store. Prakiraan juga diperbarui setiap sepuluh hari sekali, tepatnya pada tanggal 11, 21, dan akhir bulan.
“Harapannya, informasi ini bisa menunjang aktivitas masyarakat sehari-hari,” tutupnya.
Editor: Erwin