Analis Kebencanaan BPBD Samarinda Hamzah Umar menjelaskan, Mosipena merupakan unit keliling yang menyasar masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah.
Di dalamnya tersedia fasilitas seperti videotron, komputer, pamflet, dan permainan interaktif. Melalui sarana itu, anak-anak diajak membangun kesadaran serta budaya tanggap bencana.
Mereka dikenalkan pada hal sederhana, mulai dari membuang sampah pada tempatnya, memahami risiko tanah bukit rawan longsor, hingga mengenali bahaya aliran sungai di sekitar permukiman.
“Harapannya, kesadaran ini bisa tertanam sejak dini,” ujar Hamzah belum lama ini.
Unit ini juga bersifat mandiri karena dilengkapi genset, sehingga tidak memerlukan pasokan listrik tambahan. Dengan begitu, jika terjadi bencana, unit tersebut bisa dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar.
Di luar kondisi darurat, Mosipena berfungsi sebagai sarana edukasi rutin. Dalam sepekan, mobil tersebut biasanya menyambangi dua sekolah, sehingga rata-rata delapan sekolah mendapat kunjungan setiap bulan.
“Satu unit Mosipena dioperasikan tiga petugas, terdiri dari operator, presenter, dan pendamping permainan,” tandasnya.
Editor: Erwin