Menurutnya, aspirasi masyarakat di bidang ini selalu menjadi prioritas utama dalam setiap reses, namun realisasi masih terbentur keterbatasan anggaran.
“Setiap kali reses di Kota Samarinda, mayoritas usulan masyarakat adalah semenisasi, baik jalan lingkungan maupun jalan protokol,” kata Subandi, Rabu (13/8/2025).
“Permintaan ini bahkan menempati peringkat pertama dari seluruh aspirasi yang kami terima,” tambahnya.
Berdasarkan hitungan pihaknya kala masih duduk di dewan kota, kebutuhan anggaran untuk menuntaskan seluruh aspirasi terkait infrastruktur jalan di Samarinda diperkirakan mencapai sedikitnya Rp7 triliun.
Namun, kapasitas APBD Kota Samarinda hanya berada di kisaran Rp2,5 hingga Rp3,5 triliun pada beberapa tahun lalu dan tidak seluruhnya dialokasikan untuk infrastruktur.
Untuk menutupi kekurangan tersebut, Pemprov Kaltim pada 2024 menyalurkan bantuan keuangan (bankeu) hampir Rp588 miliar kepada Kota Samarinda.
Meski tidak sepenuhnya untuk infrastruktur, bantuan tersebut dinilai cukup signifikan dalam memperbaiki jalan lingkungan dan jalan protokol.
“Alhamdulillah, dalam periode 2024 hingga sekarang, sudah banyak peningkatan maupun pembangunan baru,” ujarnya.
Selain soal pembiayaan, Subandi menyoroti masalah kendaraan bermuatan besar yang masih melintasi jalan kota, padahal ruas tersebut diperuntukkan bagi kendaraan ringan.
Banyaknya kendaraan besar yang melintas membuat banyak lubang dan rusak, meski jalan tersebut belum lama dibangun atau diperbaiki.
Politisi PKS itu menyebut Pemprov Kaltim melalui Dinas PUPR-Pera telah merancang solusi jangka panjang berupa pembangunan jalan lingkar (ring road) untuk mengalihkan arus kendaraan berat.
Salah satunya adalah rencana jalur dari Jembatan Mahulu menuju Jalan M Said (Ring Road 1), yang menghubungkan langsung ke Bandara APT Pranoto.
Jalur ini akan memudahkan kendaraan berat dari Palaran, Balikpapan, maupun daerah lain untuk langsung menuju Bontang, Sangatta, dan Berau tanpa melintasi pusat kota.
“Rencana ini sudah disiapkan sejak tiga sampai empat tahun lalu, bahkan tahun ini sudah dialokasikan anggaran sekitar Rp400–500 miliar untuk akses ring road,” jelas Subandi.
“Namun, karena efisiensi anggaran, dana tersebut dialihkan ke pos lain sehingga realisasinya kemungkinan baru dimulai pada 2026, dimulai dari pembebasan lahan,” tambah Subandi.
Menurutnya, jika jalur ring road ini terwujud, distribusi barang dan material berat tidak lagi mengganggu lalu lintas perkotaan Samarinda.
Editor: Erwin