Dalam laporannya, Fraksi Golkar berhasil menghimpun 515 aspirasi masyarakat dari hasil kegiatan reses yang dilaksanakan pada 168 titik pertemuan yang meliputi 74 desa/kelurahan dan 49 kecamatan yang berada di delapan kabupaten/kota.
Apansyah menegaskan, bahwa setidaknya infrastruktur jalan, menempati posisi pertama dalam kebutuhan masyarakat.
“Pada bidang infrastruktur ini masih menjadi masukkan dan aspirasi yang terbanyak dari masyarakat Kaltim, baik di perkotaan maupun di pedesaan,” ujarnya.
Menurut pihaknya, masih perlunya perbaikan jalan poros, perbaikan dan pengaspalan jalan-jalan lingkungan, perbaikan jembatan, semenisasi di beberapa ruas jalan lingkungan, perumahan dan akses menuju jalan utama.
Ditambah juga dengan dibutuhkannya normalisasi anak sungai, penurapan daerah pemukiman dan jalan-jalan yang rawan longsor dan di pinggiran pantai untuk mencegah abrasi.
“Pembangunan dan perbaikan drainase, pembangunan gorong-gorong untuk mengatasi persoalan banjir yang masih rawan di beberapa titik,” sebutnya lagi.
Arfan menyampaikan, penyelesaian dermaga umum dan penanganan abrasi pantai pemecah ombak di Pulau Derawan, Payung-Payung Teluk Harapan Maratua.
Kelistrikan dan penerangan jalan, juga dinilai masih perlu ditingkatkan, khususnya penyediaan lampu penerangan jalan utama dan pembangunan jaringan listrik di kawasan jalan lingkungan daerah pinggiran kota.
“Baik itu yang menggunakan jaringan listrik dari PLN maupun sistim solar cell, masih terdapat desa-desa yang belum mendapatkan aliran listrik dari PLN, terutama daerah pedalaman dan pesisir Kaltim,” tambahnya.
Sarana air bersih juga disinggung, di mana, pada tahun 2025 kapasitas produksi air minum atau Perumdam di Kaltim, diprediksi mencapai 1.460 liter per detik dari kapasitas terpasang sekitar 1.510 liter per detik.
Persentase akses air minum layak di Kaltim pada tahun 2024 telah mencapai sekitar 89,11 persen.
Namun, pada setiap reses, masyarakat Kaltim masih banyak yang mengeluhkan persoalan buruknya layanan air bersih, baik dari aspek kualitas air yang masih keruh, maupun yang kurang lancarnya distribusi air.
“Ternyata, masih banyak masyarakat yang dalam status waiting list atau daftar tunggu untuk mendapatkan layanan sambungan pelanggan air Perumdam,” sebutnya.
Terkait kondisi ini kata Apansyah, Perumdam diminta untuk melakukan peningkatan pelayanan distribusi air bersih kepada masyarakat.
Pihaknya juga meminta agar Perumdam mencari sumber-sumber air baku yang baru. Mengingat di beberapa daerah, kapasitas sumber air baku untuk air bersih terus menurun.
“Sebagaimana alternatif masyarakat juga membutuhkan bantuan pembuatan sumur bor dan bak penampungan air atau tandon,” pungkasnya.
Editor: Erwin