Kehadiran mereka didampingi jajaran teknis Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP), Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh elemen penting dalam pasar telah dibangun sesuai dengan rencana.
Hampir seluruh kios dan lapak, baik berukuran besar, sedang, maupun kecil, telah terpasang. Penataan ruang dagang pun diatur agar mudah diakses dan tidak menghambat pergerakan pengunjung.
“Sudah terpasang hampir semuanya, lapak, kios, baik yang berukuran besar, sedang, kecil,” ujar Andi Harun usai peninjauan.
Salah satu fokus tinjauan adalah kelengkapan fasilitas penunjang seperti toilet umum. Untuk menunjang kebersihan pasar saat mulai difungsikan, setiap lantai telah dilengkapi empat unit toilet.
“Kami juga melakukan kunjungan ke fasilitas toilet. Di setiap lantai ada empat, agar memberikan dukungan kebersihan pasar kelak setelah dioperasionalkan,” jelasnya.
Desain pasar juga memperhatikan efisiensi biaya operasional jangka panjang. Berbeda dari pusat perbelanjaan modern yang menggunakan sistem pendingin udara, Pasar Pagi mengandalkan sirkulasi alami melalui bukaan dan ventilasi silang di berbagai sisi bangunan.
“Kami juga cek sirkulasi udara, karena pasar ini tidak menggunakan AC untuk meminimalkan biaya operasional. Kita membuat banyak sistem bukaan sehingga sirkulasi udaranya menjadi sehat,” tuturnya.
Selain aspek teknis dan fungsional, desain pasar turut mengakomodasi ruang interaksi sosial dan nilai estetika. Dari lantai atas, pengunjung dapat menikmati panorama Sungai Mahakam. Sentuhan visual ini diharapkan dapat memperkuat daya tarik pasar sebagai ruang publik yang nyaman dan menyenangkan.
Revitalisasi Pasar Pagi tidak semata soal memperbarui wujud fisik bangunan. Konsep besar yang dibawa dalam pembangunan ini tetap menempatkan pasar sebagai ruang interaksi sosial, tempat hubungan antara pedagang dan pembeli terjalin secara alami.
Nilai-nilai khas pasar tradisional sengaja dipertahankan agar tidak luntur meski tampil dengan wajah yang lebih modern.
“Maka interaksi itu penting untuk memperkuat ikatan kekeluargaan yang tercipta di pasar,” pungkasnya.
Editor: Erwin