Proyek tahap kedua pasar legendaris ini telah mencapai progres 65 persen. Fokus pengerjaan saat ini berada pada instalasi mekanikal elektrikal plumbing (MEP), yang mencakup sistem kelistrikan, perpipaan, pelapon, serta pemasangan unit eskalator dan lift.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Rehabilitasi Pasar Pagi, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda, Hendra Irawan menjelaskan, material besar seperti lift dan eskalator telah tiba di lokasi, sehingga pekerjaan kini memasuki tahap finishing.
“Pekerjaan fisik saat ini sudah 65 persen. Tinggal menyelesaikan instalasi MEP dan sejumlah pekerjaan finishing seperti pelapon, listrik, serta pemasangan eskalator dan lift,” jelasnya, Selasa (15/7/2025).
Lanjutnya, lift barang dan penumpang masing-masing akan menjangkau lantai dua hingga tujuh, disertai fasilitas eskalator yang disiapkan untuk menunjang mobilitas pengunjung dan pedagang.
Fasilitas parkir juga menjadi bagian penting dalam desain pembangunan. Gedung pasar diproyeksikan mampu menampung sekitar 800 unit sepeda motor dan 105 unit kendaraan roda empat.
Akses keluar-masuk kendaraan pun telah diatur secara terpisah, mobil akan masuk dan keluar dari arah Jalan Jenderal Sudirman, sedangkan sepeda motor diarahkan melalui Jalan Gajah Mada.
Sementara untuk pembagian kios menjadi kewenangan Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda. Ukuran kios sendiri akan disesuaikan dengan jenis dagangan.
Untuk segmen pasar basah, nantinya ukuran standar kios ditetapkan 1,2 x 2 meter, dan ukuran terbesar mencapai 4 x 8 meter. Saat ini, belum ada sekat untuk kios pedagang karena pekerjaan tahap dua masih berlangsung.
“Untuk kios pedagang itu menjadi kewenangan Disdag Samarinda, dari sekat hingga ukuran kiosnya,” paparnya.
Target penyelesaian proyek di tahap kedua ini tetap mengacu pada kontrak, yakni Oktober 2025. DPRD Samarinda sebelumnya juga mengingatkan agar pelaksanaan tidak lagi mengalami keterlambatan, mengingat pedagang telah lama menunggu untuk kembali menempati lapak dagangnya.
Dari segi desain, pasar ini mengusung konsep low maintenance dan low energy. Tidak ada instalasi pendingin udara (AC), dengan mempertimbangkan efisiensi energi dan biaya pemeliharaan ke depan. Sirkulasi udara diperkuat melalui desain bangunan yang terbuka.
“Ini bangunan low energy. Jadi tidak pakai AC. Sirkulasi udara kita desain terbuka supaya tetap nyaman,” tuturnya.
Untuk pekerjaan lanjutan, Dinas PUPR tengah menghitung kebutuhan anggaran yang akan diusulkan melalui APBD Perubahan 2025. Salah satu yang direncanakan adalah pemagaran akses Jalan Pandai, sekaligus menjadi pembatas antara area pasar dan kawasan permukiman.
“Kalau secara fisik, bangunan sudah selesai. Tapi untuk pemagaran dan pembatas, masih kita hitung dulu kebutuhannya,” pungkasnya.
Editor: Erwin