Setelah mengalami longsor pada Mei lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda kini memfokuskan pekerjaan pada penanggulangan lereng di inlet Jalan Sultan Alimuddin, Kecamatan Samarinda Ilir.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun menyampaikan fokus utama tahun ini adalah penanganan longsoran lereng, khususnya pada area endapan.
Berdasarkan kajian tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB), longsoran tersebut tergolong sebagai peristiwa berulang yang pernah terjadi di masa lampau.
“Ini sesuai dengan prinsip geoteknik bahwa satu longsoran bisa memicu longsoran berikutnya jika tidak segera ditangani,” ucapnya, Kamis (8/7/2025).
Ia mengakui, longsor sebetulnya bisa dicegah karena anggaran penanganan lereng sudah tersedia dalam APBD murni. Namun, karena berbagai belanja prioritas lain, alokasinya akhirnya digeser ke APBD Perubahan.
“Maka atas kesepakatan antara pemerintah dan DPRD, pekerjaan penanganan lereng terpaksa ditunda ke APBD perubahan,” terangnya.
Dijelaskannya, potensi longsor memang sulit diprediksi secara pasti. Namun, secara teknis kejadian tersebut telah diantisipasi oleh penyedia jasa sejak awal, sehingga dampaknya tidak bersifat fatal.
Adapun longsoran di sisi Jalan Alimuddin yang hingga kini masih menutup mulut terowongan, menurutnya merupakan bagian dari rekomendasi geologis. Endapan talus yang menumpuk justru berfungsi menahan tekanan dari atas.
“Kalau material di bawahnya langsung dibersihkan, bagian atas akan mudah bergerak kembali. Maka itu, ada pertimbangan geoteknis mengapa kita menahannya dulu,” ujarnya.
Penanganan lereng terbagi dalam dua fase. Fase pertama mencakup pengerjaan lereng sisi inlet, perbaikan kemiringan (regrading), dan pembangunan struktur beton (cast in-situ concrete) sepanjang 72 meter. Proyek ini ditargetkan rampung pada Desember 2025 dengan anggaran sekitar Rp39 miliar.
Fase kedua dimulai Januari 2026, meliputi pembangunan ground anchor, sistem drainase, dan struktur penahan tambahan, dengan anggaran mencapai Rp94 miliar.
Dilakukan juga revegetasi atau penanaman kembali tanaman guna memperkuat daya ikat tanah secara alami.
“Badan terowongan secara fisik sebenarnya sudah hampir 100 persen selesai. Tapi kita belum bisa melakukan commissioning atau uji coba fungsi, karena saya memutuskan menunda demi keselamatan,” tegasnya.
Pasalnya, lanjut dia, tim teknis sebenarnya telah menyatakan bahwa terowongan sudah layak untuk diuji coba. Namun demikian, ia secara pribadi memilih untuk menahannya demi keselamatan bersama.
“Lebih baik kita sabar, pelan-pelan, tapi semua dipersiapkan secara matang agar ketika diuji coba nanti, semua benar-benar aman,” tutupnya.
Editor: Erwin